Menu

Mode Gelap
PPCD Siap Gelar Pendaftaran Bakal Calon Direktur PNUP Oknum Polri Jadi Algojo Habisi Nyawa Najamuddin Sewang Polsek Bontonompo Kesampingkan Perma 2 Tahun 2012? Kanitres Bungkam Babak Baru Kasus Dugaan Korupsi Proyek Infrastruktur Wisata Toraja Rp40 M Camat Ujung Pandang Gelar Pertemuan Bersama Ketua RT dan RW

Hukum & Kriminal · 11 Mei 2022 22:13 WITA

Tersangka Dugaan Penganiayaan Praperadilankan Polsek Rappocini 


 Tim Penasehat Hukum tersangka dugaan penganiayaan, MF, Alfiansyah Farid Mamma mengatakan pihaknya gugat praperadilan penyidik Polsek Rappocini. Perbesar

Tim Penasehat Hukum tersangka dugaan penganiayaan, MF, Alfiansyah Farid Mamma mengatakan pihaknya gugat praperadilan penyidik Polsek Rappocini.

Seorang pelajar inisial MF (18) yang ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan tindak pidana penganiayaan resmi menggugat praperadilan penyidik Polsek Rappocini, Makassar.

Alfiansyah Farid Mamma, Tim Penasehat Hukum MF membenarkan hal tersebut. Kata dia, pihaknya resmi mendaftarkan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Makassar sejak Senin 9 Mei 2022 dengan nomor registrasi 9 Pid.Pra/2022/PN. Mks.

“Materi praperadilan kita tentang sah tidaknya penangkapan, penahanan dan penetapan tersangka klien kami, MF yang dilakukan oleh penyidik Polsek Rappocini selaku termohon praperadilan,” ucap Alfiansyah kepada Kedai-Berita.com di Pengadilan Negeri Makassar, Rabu (11/5/2022).

Ia berharap nantinya putusan praperadilan mengabulkan permohonan yang diajukan oleh kliennya untuk seluruhnya dan menyatakan penangkapan, penahanan hingga penetapan tersangka kliennya tidak sah demi hukum dan memerintahkan penyidik Polsek Rappocini selaku termohon praperadilan segera mengeluarkan kliennya dari rumah tahanan Polsek Rappocini.

“Kami memiliki cukup bukti terkait adanya dugaan pelanggaran SOP yang dilakukan oleh termohon praperadilan dalam hal ini penyidik Polsek Rappocini. Baik dalam hal mekanisme penangkapan, penahanan hingga penetapan tersangka,” ujar Alfiansyah.

 

Tersangka Turut Mengadu ke Kapolda Sulsel

Seorang pelajar inisial MF (18) melalui Tim Penasehat Hukumnya yang tergabung dalam Law Firm Farid Mamma S.H., M.H. & Partners sebelumnya mengadukan oknum penyidik Polsek Rappocini Makassar ke Kapolda Sulsel, Kamis 27 April 2022.

Alfiansyah Farid, anggota Tim Penasehat Hukum yang tergabung dalam bendera Law Firm Farid Mamma S.H., M.H. & Partners mengatakan, pengaduan yang dilakukan pihaknya ke Kapolda Sulsel sebelumnya, lantaran kliennya diduga mendapatkan perlakuan intimidasi dan kekerasan fisik saat dalam pemeriksaan oleh penyidik Polsek Rappocini Makassar.

“Jadi klien kami dituduh terlibat dugaan penganiayaan. Tapi yang kami sesalkan klien kami diduga mendapatkan intimidasi saat diambil keterangannya oleh oknum penyidik di Polsek Rappocini,” ungkap Alfiansyah Farid.

Baca Juga :  Menanti Keberanian Jaksa Ungkap Jaringan Mafia Jen Tang

Awalnya, kata dia, kejadian ini bermula tepatnya pada tanggal 27 Maret 2022 sekitar pukul 10.00 wita. Di mana saat itu, orang tua dari kliennya diberitahukan oleh salah satu temannya bahwa ia sedang dicari oleh oknum anggota Resmob Polda Sulsel inisial ZA.

“Klien saya bersama orang tuanya, Ricky dan Fatmawati dengan koperatif mendatangi rumah ZA untuk mempertanyakan maksud dan tujuannya ia mencari klien kami,” ucap Alfiansyah Farid.

ZA yang ditemui di rumahnya lalu mengatakan jika MF diduga terlibat dalam tindak pidana dugaan penganiayaan dengan memperlihatkan bukti seperti motor yang diduga digunakan oleh MF.

“Tapi klien kami, MF membantah dan mengatakan jika dirinya tidak pernah menggunakan motor dan tidak pernah terlibat kasus tersebut,” tutur Alfiansyah Farid.

Selanjutnya MF dibawa ke Posko Resmob Polda Sulsel untuk diambil keterangannya dengan adnaya jaminan keselamatan dari ZA.

“ZA ini menyakinkan orang tua MF kalau MF hanya akan dimintai keterangannya dan bukan untuk ditahan,” jelas Alfiansyah Farid.

Namun, pada saat MF berada di Posko Resmob Polda Sulsel, orang tua MF tidak pernah lagi mendapatkan informasi mengenai MF sehingga merasa sangat khawatir.

“Sebelum klien kami, MF ditangkap bersama dengan terduga pelaku lainnya dalam perkara a quo, klien kami beserta para terduga pelaku diantaranya AW dan EX semuanya tidak berada di tempat kejadian perkara dan tidak tahu-menahu atas kejadian tindak pidana yang dimaksudkan dari pihak Kepolisian,” tutur Alfiansyah Farid.

Menurut keterangan MF, lanjut Alfiansyah bahwa MF dan terduga pelaku lainnya pada hari kejadian tindak pidana dalam perkara a quo, mereka berada dalam lorong tempat kediaman mereka tinggal, begitupun dengan keterangan-keterangan keluarga dan kerabat MF dan para terduga pelaku lainnya.

Namun setelah kliennya, MF dimintai keterangan oleh pihak Resmob Polda Sulsel, MF dan terduga pelaku lainnya langsung diserahkan ke Polsek Rappocini dan selanjutnya di proses BAP di sana.

Baca Juga :  Tantangan Pegiat Anti Korupsi untuk Kapolda Sulsel Baru

“Yang kami sayangkan di mana pada proses pemeriksaan oleh penyidik, klien kami, MF dan terduga pelaku lainnya diduga mendapatkan perlakuan intimidasi dan kekerasan fisik,” terang Alfiansyah Farid.

Ia juga mengatakan bahwa barang bukti yang disita oleh Penyidik Polsek Rappocini berupa Helm merek KYT Retro milik kliennya, MF yang diperoleh di rumah EX, baju yang digunakan oleh MF dan celana Levi’s warna abu-abu dengan robekan di lutut milik AW, di mana barang bukti sitaan berupa helm merek KYT Retro milik MF yang diperoleh di rumah EX memiliki sticker di bagian belakang helm, sementara hasil dari rekaman CCTV yang diperoleh tidak memiliki sticker di bagian belakang helm yang dijadikan sebagai barang bukti oleh penyidik Polsek Rappocini.

Demikian juga terkait barang bukti berupa pakaian MF yang disita sebagai barang bukti tersebut, lanjut Alfiansyah, tidak sama dengan hasil rekaman CCTV yang dijadikan dasar oleh Penyidik Polsek Rappocini.

“Berdasarkan hasil rekaman CCTV yang beredar, Klien kami dan terduga pelaku lainnya tidak mempunyai atau memiliki kendaraan motor warna merah dan putih berdasarkan hasil rekaman CCTV, sementara klien kami hanya memiliki kendaraan bermotor merk honda beat berwarna biru milik orang tuanya. Sedangkan terduga pelaku lainnya tidak memiliki kendaraan seperti hasil dari rekaman CCTV yang dijadikan dasar penangkapan,” ungkap Alfiansyah Farid.

Adapun mengenai barang bukti yang disita berupa celana Levi’s dari terduga pelaku lainnya salah satunya milik AW itu, kata Alfiansyah, tidak sama berdasarkan hasil rekaman CCTV.

Celana yang disita oleh penyidik dan digunakan oleh terduga pelaku AW ada robekan di posisi lutut, sedangkan hasil rekaman CCTV tidak memiliki robekan sama sama sekali di bagian lutut.

Baca Juga :  Dua Tersangka Kasus Underpas Simpang Lima Bandara Dipastikan dari Tim Sembilan

Tak hanya itu, Alfiansyah mengatakan bahwa alasan pihaknya mengadukan tindakan oknum Penyidik Polsek Rappocini ke Kapolda Sulsel tersebut, karena pada saat kliennya MF ditahan baru diberikan beberapa lembar surat, antara lain Surat Pemberitahuan dimulainya Penyidikan Nomor : A.C / 49 / III / Res.1.6 / 2022 / Reskrim tertanggal 28 Maret 2021, Surat Perintah Penahanan Nomor : SP.Han / 43 / III / Res.1.6 / 2022 / Reskrim tertanggal 29 Maret 2022, Surat Perintah Penangkapan Nomor :  SP. Kap / 77 / III / Res.1.6 / 2022 / Reskrim yang dikosongkan pada format tanggal dikeluarkan surat serta Surat Perpanjangan Penahanan Nomor: 117 / P.4.10 / EKU.1 / 04 / 2022 tertanggal 11 April 2022.

“Sebelumnya terduga pelaku lainnya EX diamankan dan ditahan bersama klien kami MF serta seorang lainnya terduga pelaku. Namun berselang kurang lebih dua pekan, penyidik justru melepaskan terduga pelaku EX dengan dalih tidak terbukti,” jelas Alfiansyah Farid.

Tak sampai di situ, alasan lainnya pengaduan pihaknya ke Kapolda Sulsel, lanjut Alfiansyah Farid, karena pada saat dilakukan rekonstruksi, kliennya dan terduga pelaku lainnya menolak memperagakan yang sebenarnya.

MF dan terduga pelaku lainnya, kata dia, tidak mengetahui kronologi tindak pidana dugaan penganiayaan yang disangkakan oleh penyidik, tetapi penyidik diduga tetap memaksa untuk memperagakan sesuai keterangan BAP kliennya dan terduga pelaku lainnya yang diperoleh penyidik.

Pada saat dilakukan rekonstruksi, kata Alfiansyah, MF dan terduga pelaku lainnya telah mengatakan jika keterangan dalam BAP tersebut terpaksa diakui karena sudah tidak tahan dengan dugaan intimidasi yang dilakukan oleh oknum penyidik.

“Selanjutnya klien kami MF menunjuk salah satu Penyidik Polsek Rappocini in casu inisial AR yang diduga melakukan intimidasi. Oknum Penyidik AR mengakui perbuatannya dan disaksikan serta didengar oleh salah satu kuasa hukum pelaku dalam perkara a quo ini,” Alfiansyah Farid mengungkapkan. (Eka)

Artikel ini telah dibaca 287 kali

Baca Lainnya

Reka Ulang Pembunuhan Petugas Dishub Makassar

19 Mei 2022 - 23:58 WITA

Buron Korupsi Pengadaan Perangkat Komputer di Torut Dibekuk

18 Mei 2022 - 14:30 WITA

Korupsi Bansos Covid dan BPNT, Djusman: Baiknya Tahan Tersangka

17 Mei 2022 - 18:59 WITA

Polres Gowa Tangkap 6 Pelaku Perang Kelompok

17 Mei 2022 - 09:05 WITA

Menelisik Peranan Panitia 9 di Kasus Korupsi Bandara Mengkendek

12 Mei 2022 - 13:12 WITA

Bupati Tator Diperiksa di Sidang Tipikor Bandara Mengkendek

10 Mei 2022 - 14:21 WITA

Trending di Hukum & Kriminal
error: Hai! Pengunjung Kedai-berita.com