Menanti Taji Kapolda Sulsel Baru Tahan Para Tersangka Dugaan Korupsi RS Batua

  • Bagikan

Sejumlah lembaga pegiat anti korupsi di Sulsel ramai-ramai mendorong Kapolda Sulsel yang baru Irjen Pol Nana Sujana agar memberikan perhatian tegas terhadap sejumlah penanganan perkara tindak pidana korupsi oleh jajarannya, utamanya yang ditangani oleh Subdit Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Sulsel.

Direktur Pusat Kajian Advokasi Anti Korupsi Sulawesi Selatan (PUKAT Sulsel) Farid Mamma diantaranya mengungkapkan ada beberapa perkara dugaan korupsi yang telah ditangani oleh Subdit Tipikor Polda Sulsel yang mana para tersangkanya tidak ditahan.

Padahal, kata dia, perbuatan para tersangka tersebut ditaksir telah merugikan negara hingga puluhan miliar sebagaimana disebutkan dalam Laporan Hasil Perhitungan (LHP) kerugian negara oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.

“Ya, kasus dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit Batua, Makassar itu. Di mana dinyatakan pekerjaannya total los oleh BPK dan ditaksir merugikan negara sebesar Rp22 miliar lebih. Kok para tersangka justru tak ditahan dan dibiarkan masih melenggang kangkung,” kata Farid kepada Kedai-berita.com via telepon, Selasa (9/11/2021).

Meski demikian, ia mengaku cukup mengapresiasi kinerja penyidik Subdit Tipikor Polda Sulsel yang telah menetapkan 13 orang tersangka dalam kegiatan yang dapat dinilai sebagai kejahatan kemanusiaan itu.

Direktur Pusat Kajian Advokasi Anti Korupsi Sulawesi Selatan (PUKAT Sulsel) Farid Mamma, SH

“Tapi kami tetap mendorong agar para tersangka ini segera ditahan karena telah merugikan negara tidak main-main jumlahnya. Bayangkan uang puluhan miliar habis sementara hasil pekerjaannya tak dapat dimanfaatkan. Kami kira upaya penahanan cukup beralasan kuatlah,” terang Farid.

Ia mengatakan, secara kelembagaan PUKAT Sulsel bersama para teman-teman lembaga pegiat anti korupsi di Sulsel lainnya punya harapan yang sama agar penahanan para tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan RS Batua Makassar ini bisa segera terealisasi.

“Untuk itu kami dengan tegas menantang taji Kapolda Sulsel yang baru untuk segera mengevaluasi kinerja penyidiknya agar bekerja profesional dan segera menahan para tersangka dalam kasus yang cukup mendapat perhatian besar masyarakat Sulsel ini. Kami menantikan itu dari Kapolda Sulsel Irjen Pol Nana Sujana,” tutur Farid.

Tak hanya itu, adik mantan Waka Bareskrim Polri Irjen Pol Purn. Syahrul Mamma itu juga sangat berharap agar ada penambahan tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan RS. Batua, Makassar tersebut.

Baca Juga :  Peringatan Keras Komisi C Untuk D' Fashion Textile Makassar

“Saya kira jika penyidik punya kemauan besar dan komitmen dalam mengungkap kasus ini dengan utuh, maka penyidikan terus berlanjut untuk mengejar kemungkinan adanya dugaan keterlibatan pihak-pihak lain di dalamnya. Misalnya saja mengejar pihak-pihak yang turut menikmati uang hasil korupsi yang ada,” ujar Farid.

Sebelumnya, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Sulsel Kombes Pol Widoni Fedri menegaskan, pihaknya tidak akan berhenti mengejar perbuatan pelaku-pelaku berikutnya dalam kegiatan yang merugikan keuangan daerah Kota Makassar tersebut.

“Kita tidak akan sisakan pelaku-pelaku yang ada. Semua yang diketahui turut serta dalam menyebabkan terjadinya kerugian negara kita akan mintai pertanggungjawaban hukum. Silahkan teman-teman memonitor dan sama-sama mengawal kasus ini hingga tuntas dengan utuh,” ujar Widoni dalam konferensi pers penetapan tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan RS. Batua, Makassar di Mapolda Sulsel, Senin 2 Agustus 2021.

Ia mengungkapkan, dari hasil penelusuran oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), ditemukan ada aliran dana-dana proyek yang mengalir pada orang-orang yang dituju dan hal itu yang menjadi pertimbangan mereka menjadi tersangka.

“Setelah itu kami belum bisa ngomong terlalu jauh lagi mengenai aliran dana itu kemana selanjutnya. Kita tunggu saja hasil pengembangan penyidikan berikutnya,” jelas Widoni.

Tiap Tahun Dapat Kucuran Anggaran

Pembangunan Rumah Sakit Batua Makassar kabarnya telah menelan anggaran sebesar Rp120 miliar lebih. Meski yang berproses hukum saat ini baru sebatas penggunaan anggaran pembangunan tahap pertama yakni sebesar Rp25 miliar lebih.

Ketua Komisi D DPRD Makassar, Abdul Wahab Tahir jauh sebelumnya mengungkapkan bahwa pembangunan Rumah Sakit Batua Makassar telah mendapatkan kucuran anggaran tiap tahun terhitung sejak tahun 2018.

Penambahan anggaran pembangunan RS Batua di tahun 2020, kata dia, diusulkan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) kota Makassar. Kemudian berlanjut di tahun 2021 kembali diusulkan oleh Dinas Kesehatan Kota Makassar.

Meski demikian, ia mengaku lupa angka pasti anggaran yang dimaksud. Yang jelasnya, lanjut dia, pembangunan Rumah Sakit Tipe C Batua tersebut dianggarkan tiap tahun namun selalu gagal tender.

Baca Juga :  Aroma Korupsi Pengelolaan Lapak Kanre Rong Makassar

“Tahun 2020 dianggarkan pada Dinas PU dan tahun 2021 kembali ke Dinas Kesehatan,” ucap Wahab saat dikonfirmasi via telepon, Kamis 28 Januari 2021.

Saat ditanya apakah anggaran yang kucur tiap tahunnya untuk pembangunan Rumah Sakit Batua itu telah kembali ke kas daerah karena alasan gagal tender, Wahab mengatakan hal itu sudah pasti harus kembali masuk ke kas daerah.

“Iya,” jawab Wahab sembari mengingat bahwa pada tahun 2020 lalu, pembangunan Rumah Sakit Batua kabarnya sempat dianggarkan dengan usulan Rp100 miliar, namun turun menjadi Rp80 miliar.  Kemudian disepakati pada APBD 2020 sebesar Rp50 miliar.

13 Orang Tersangka Termasuk Broker

Tim Penyidik Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Sulsel telah menetapkan 13 orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit Batua Makassar tahun anggaran 2018.

Ketiga belas tersangka tersebut masing-masing berinisial AN, SR, MA, FM, HS, MW, AS, MK, AIHS, AEH, DR, ATR dan RP.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Sulsel Kombes Pol Widoni Fedri mengungkapkan dari 13 orang tersangka tersebut, ada yang berperan sebagai Pengguna Anggaran (PA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Panitia Pelaksana Teknis Pekerjaan (PPTK), Konsultan Pengawas, Kelompok Kerja (Pokja), Tim PHO, pelaksana pekerjaan (rekanan), broker pekerjaan hingga aktor intelektual yang merancang lakukan korupsi terhadap anggaran kegiatan pembangunan Rumah Sakit Batua Makassar itu.

“Sejak awal proses tender proyek sudah terjadi persekongkolan jahat. Memang niatnya sudah ada dari awal,” kata Widoni dalam konferensi pers penetapan tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit Batua Makassar di Gedung Subdit Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Sulsel, Senin 2 Agustus 2021.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para tersangka dijerat dengan ancaman Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Tak hanya itu, Widoni berjanji akan terus mengembangkan penyidikan kasus tersebut untuk menyeret tersangka berikutnya atau mereka yang dianggap turut terlibat dalam kegiatan yang menyimpang dan telah merugikan keuangan dan perekonomian daerah Kota Makassar tersebut.

Baca Juga :  Pegiat Anti Korupsi Dukung Kejati Sulsel Usut Dugaan Korupsi Keripik Zaro Palopo

“Pasal 55 juga akan jadi fokus pertimbangan sehingga kasus ini akan terus kami kembangkan. Jadi tidak hanya mentok pada 13 tersangka saat ini. Ke mana-mana saja aliran dana proyek ini kita sudah kantongi, tinggal pendalaman lebih lanjut,” jelas Widoni.

Ia mengungkapkan, dalam pembangunan Rumah Sakit Batua Makassar hingga saat ini telah menelan anggaran hingga Rp120 miliar lebih. Namun, penyidikan kasus yang sedang berjalan baru sebatas pada penggunaan anggaran tahap pertama di tahun anggaran 2018 yakni sebesar Rp25 miliar lebih.

“Termasuk kita juga akan dalami sejauh mana pelaksanaan proyek IPALnya nanti. Untuk saat ini penyidikan baru sebatas pemanfaatan anggaran pembangunan gedungnya di tahap awal yang menelan anggaran Rp25 miliar lebih dan ternyata dari perhitungan BPK kerugian negara mencapai Rp22 miliar lebih. Pekerjaan dinilai oleh BPK sebagai total loss karena fisik bangunan tidak dapat dimanfaatkan sama sekali,” ungkap Widoni.

Ia berharap peran aktif rekan-rekan media hingga masyarakat dalam mengawal penuntasan utuh kasus dugaan korupsi di lingkup Rumah Sakit Batua Makassar tersebut.

Jika dikemudian hari, kata dia, ada yang memiliki bukti lainnya yang masih terkait dengan dugaan penyimpangan pelaksanaan pembangunan Rumah Sakit Batua itu, agar bisa berkoordinasi dengan tim penyidik.

“Kita ingin kasus ini terbuka secara terang-benderang. Siapa pun yang ditemukan terlibat sebagaimana dukungan alat bukti, kita tak segan-segan akan memintai pertanggungjawaban secara hukum yang berlaku,” tegas Widoni.

Diketahui, proyek pembangunan proyek pembangunan RS Batua Makassar Tipe C tahap satu tersebut awalnya ditender melalui LPSE dengan nilai pagu anggaran sebesar Rp49 miliar.

Dalam prosesnya kemudian, PT. Sultana Nugraha disebut sebagai perusahaan pemenang tender dengan nilai HPS sebesar Rp26 miliar lebih.

Adapun yang bertindak sebagai Konsultan Pengawas dalam pelaksanaan pekerjaan yakni perusahaan bernama CV Sukma Lestari dan Dinas Kesehatan Kota Makassar dalam hal ini bertindak selaku pengelola pagu anggaran. (Eka)

  • Bagikan