Meraba Aktor Intelektual Kasus Penganiayaan dan Pembunuhan di Mananti Sinjai

Berawal dari nguping pembicaraan beberapa anak muda di sebuah warkop di Jalan Perintis kmerdekaan Makassar. Sore itu mereka membicarakan salah satu temannya yang kena musibah penganiayaan berat.

Rupanya kejadian pada hari Sabtu 24 Juli 2021, kisaran waktu 19.30 Wite itu, ada korban yang meninggal dunia, walau sudah diupayakan tim medis Puskesmas setempat.

Pada malam itu ada tiga TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang berbeda, tetapi di kelurahan yang sama yakni kelurahan Mananti, kecamatan Tellu Limpoe, Kabuten Sinjai.

Dari pembicaraan itu terungkap bahwa yang meninggal bernama Rahmatullah dan pelakunya telah di penjara.

Namun konon keluarga (Alm) Rahmatullah kecewa karena mereka tidak mendapat informasi secara tertulis soal penanganan perkara hingga jatuh vonis.

Mendengar informasi tersebut wartawan media ini mendekat dan ikut terlibat dalam bincang-bincang tersebut.

Salah satu dari anak-anak muda itu belakangan diketahui bernama Syarifuddin yang juga mengalami penganiayaan berat hingga cacat permanen.

Syarifuddin mengisahkan peristiwa yang menyebabkan dirinya cacat permanen karena, bila menoleh ke kiri atau ke kanan maka badanya harus ikut balik.

Syarifuddin

Menurut Syarifuddin, “Kejadian penganiayaan, yang dialami terjadi di TKP pertama yakni di sudut lapangan bola Bonto Asa depan rumah salah satu kerabat.”

Lanjut Syarifuddin yang berprofesi sebagai mahasiswa ini mengatakan, “Saya tak kenal orang-orang yang menganiaya karena selain malam mereka datang dari kampung lain. Jumlah mereka cukup banyak karena ada beberapa yang mengendarai motor dan ada yang naik mobil.

Menjawab pertanyaan wartawan media ini, Syarifuddin yang akbrab disapa Icca ini mengatakan, “Selain saksi Arman ada juga orang lain mereka kenal dengan pelaku penikaman dan yang memarang saya.” Usai menceritakan, Icca memperlihatkan leher bagian belakang bekas sabetan parang.

Luka  bekas ditebas parang

“Hingga saat ini keluarga saya belum mendapat SP2HP(Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) dari penyidik,” tutup Icca.

Beberapa hari setelah mendapat informasi tersebut tim media ini berupaya menyelisik permasalahan penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan pada malam hari. Dan diduga dilakukan oleh banyak orang dengan persiapan alat tajam berupa badik dan parang.

Rabu, 22 Setember 2021, subuh berangkat dari perbatasan Bulukumba-Sinjai menuju Kelurahan Manannti, Kecamatan Tellu Limpoe Sinjai.

Kekuasaan Allah

Sesuai informasi yang berhasil dihimpun media ini, di TKP pertama, Yunus dan Alfian dianiaya di dalam rumah.

Kemudian kejadian berlangsung ke depan rumah/ kiosnya Yunus, selain Syafruddin ada korban bernama Anca ditarik diaspal kemudian diinjak-injak. Di tempat yang sama ada korban bernama Ridwan yang ditarik diaspal diinjak-injak.

Seorang anak di bawah umur bernama Akbar ditarik turun dari motor. Dia juga diancam untuk ditikam cuma karena sujud minta ampun jadi olos dari bahaya. Kejadian Itu di depan rumah tetangganya Yunus, yang bernama puang Sitti.

Dua orang pelaku yang diduga melakukan penganiayaan di dalam rumah Yunus berinsial Aw dan Bt.

Hanya kekuasaan Allah sehingga salah satu dari yang melakukan penganiayaan di dalam rumah bisa dikenal dengan baik oleh isiteri pemilik rumah/kios, ibu Suha.

Pasalnya kondisi gelap dan kacau ditambah lagi panik bercampur takut. Entah mengapa setelah melakukan penganiayaan lelaki berinsial Aw masuk kembali ke dalam rumah Yunus mengambil sendalnya yang tertinggal.

Saat itulah isteri pak Yunus mengenalinya, langsung memaki lelaki tersebut. Karena kira-kira jam 10 pagi pada hari yang sama, lelaki berisial Aw datang dengan mobil menawarkan barang jualan. Bahkan Suha sempat membeli satu lusin sendal.

TKP ke dua, seorang anak dibawah umur bernama Ariel dianiaya berat, kejadian terjadi di jalan masuk lingkungan/dusun Pariae. Ariel telah melapor ke Polsek Tellu Limpoe namun tak jelas kabar penanganannya.

Dikabarkan juga, semua kejadian di TKP pertama maupun kedua telah dilapor ke APH namun, tak satu pun dari mereka mendapat haknya tentang perkembangan kasus yang mereka laporkan dalam bentuk SP2HP.

TKP ketiga di depan warung gaul Jl poros Bonto Asa diduga disitulah Alm Rahmatullah dieksekusi.

Konon rombongan setelah meninggalkan TKP kedua sudah berniat pulang, bahkan sudah meninggalkan TKP ketiga kurang lebih 20 M. Namun ada perintah dari salah seorang tokoh masyarakat beriansial Ka agar rombongan kembali “ratakan” Bonto Asa.

Mendapat perintah tersebut rombongan pun kembali dan terjadilah penganiayaan sehingga jatuh korban.

Selain itu ada informasi lain menyebutkan waktu penyerangan di TKP pertama ada seorang perempuan pakai baju daster yang.diduga isteri dari salah satu pelaku yang menganiaya Alfian dan Yunus menelpon memanggil anggota rombongan untuk berkumpul.

Saat tim Kedai-berita com tinggalkan lokasi seorang ibu paruh bayah menitip harapan agar kasus ini diusut tuntas.
Bukan karena balas dendam, tetapi agar kejadian ini tidak terulang lagi dikemudian hari.

Menurut ibu yang tak ingin disebut namanya ini menduga ada otak dibalik peristiwa ini. Karena kalau tidak salah kejadian seperti sudah terjadi tiga kali.

Kasihan anak-anak muda yang merupakan harapan orang tua dan daerah dan negara kita tercinta
Iharus tersesat dalam faham premanisme

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sinjai IPTU Abustam saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (24/9/2021) mengatakan, “Semua pelapor telah dilakukan penyelidikan dan penyidikan sesuai hukum acara pidana. Semua pelapor telah mendapatkan laporan perkembangan kasusnya yakni SP2HP.

“Kalau mengenai LP 101 atas nama Syarifuddin alias Icca penyidik telah menetapkan tiga tersangka yakni Egis, HR dan OG alias OL,” ucap Abustam.

Dia menambahkan, “Dua orang DPO(Daftar Pencarian Orang) yakni HR dan OG, kasus tetap jalan karena bisa split.

Ketika ditanya berapa pelaku pembunuhan Rahmatullah, Abustam terlihat diam sejenak kemudian mengatakan, “Kenapa kasus pembunuhan diungkit lagi kasihan keluarganya terlebih ibunya tambah sedih. Apalagi tadi kalian mau bertanya soal LP 101 saja.”

Saat wartawan media ini menyampaikan bukankah soal penganiayaan dan pembunuhan satu rangkain kejadian?

Kanit Reskrim yang menemani Kasat Reskrim menjawab singakat,”Egis pelaku tunggal.”(Said/Irfan)

Tagged with:
Polres Sinjai

Kreasi Tanpa Sekat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yang Mungkin Anda Sukai
Dugaan Korupsi Bibit Nanas, Eks Kabid Holtikultura Sulsel Turut Ditahan 

Dugaan Korupsi Bibit Nanas, Eks Kabid Holtikultura Sulsel Turut Ditahan 

Kejati Sulsel Dalami Peran DPRD dalam Dugaan Korupsi Bibit Nanas Rp60 M

Kejati Sulsel Dalami Peran DPRD dalam Dugaan Korupsi Bibit Nanas Rp60 M

Kejati Sulsel Tahan Eks Pj Gubernur dan Empat Tersangka Dugaan Korupsi Bibit Nanas

Kejati Sulsel Tahan Eks Pj Gubernur dan Empat Tersangka Dugaan Korupsi Bibit Nanas

error: Special Content !