Warga kompleks PDAM yang beralamat di Jalan Dr. SAM Ratulangi bernama Akbar Busthami akhirnya melaporkan kejadian penganiayaan yang menimpa dirinya ke Polsek Ujung Pandang.
Akbar melaporkan oknum pegawai PDAM Makassar lantaran ia mendapat tindak kekerasan yang mengakibatkan luka dibagian dahi dan benjolan dikepala serta bercak merah dimatanya.
“Saya dipukul oleh beberapa oknum pegawai PDAM Kota Makassar sehingga dahi saya bengkak, dan mata kanan saya tidak berfungsi dengan baik karena luka memar dan bercak merah,”Ujar Akbar.
Tak hanya Akbar Busthami, salah seorang warga bernama Mustajab juga ikut melaporkan persoalan yang sama karena mendapat kekerasan yang sama yang dilakukan oleh oknum pegawai PDAM.
“Pas kejadian saya dalam posisi merekam dan mengambil gambar dan pada saat itu ada dua orang pegawa PDAM yang langsung menghampiri saya dan langsung memukul pas rahang kanan saya dan setelah kedua pegawai itu memukul datang lagi sekitar delapan orang memukuli saya sampai tersungkur ke aspal,”Jelas Mustajab.
Adapun kronologi kejadian dikisahkan keduanya ditengarai lantaran adanya aktifitas mobil pengankut material proyek pembanguan sarana olahraga yang terletak di ujung kompleks PDAM Kota Makassar.
Padahal warga kompleks PDAM dan pihak PDAM kota makassar telah menyepakati segala aktifitas pengangkutan material proyek tersebut hanya sampai pada pukul 18.00 Wita.
Namun giat terus berjalan hingga pukul 23.00 Wita dan masih terlihat ada mobil dum truck yang masuk dan membawa material proyek pembangunan sarana olah raga.
Atas kejadian itu warga pun mendatangi warga pun mendatangi kantor PDAM Makassar untuk melakukan protes menyoal kesepakatan yang telah dibuat bersama penenang proyek.
Dari data yang dihimpun protes warga diakibatkan oleh pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sudah terjadi berulang kali disebabkan pihak pemenang tender PT. ALAM LINTAS INDONESIA telah menyalahi kesepakatan dengan warga.
Pembangunan RTH yang terletak dikompleks PDAM Kota Makassar juga beberapa bulan lalu telah menyebabkan pemukiman warga terendam banjir dan diduga kuat tidak memiliki analisis dampak lingkungan (Andal).
“Warga kompleks PDAM Makassar berharap kasus tersebut dapat ditindak lanjuti secara hukum oleh aparat yang berwenang berdasarkan laporan kepolisian,”harapnya.
Dikonfirmasi terpisah Kabag Humas PDAM Makassar, Anugrah Alkaudzar Hambali mengatakan bahwa persoalan ini berawal saat warga datang menyerang dengan membawa senjata tajam.
“Sebenarnya ini persoalan karena warga duluan yang datang menyerang malam-malam bahkan ada yang bawa parang, siapa yang tidak marah kalau kantornya diserang,”kata Anugrah via pesan singkat, Kamis 3 Juni 2021.
Namun ia tak menampik adanya pemukulan yang dilakukan beberapa pegawai lingkup PDAM terhadap beberapa warga.
“Jadi semua itu karena spontanitas karyawan. Apalagi yang di serang ini objek vital,”akunya.
Anugrah menambahkan bahwa persoalan ini hanyalah kesalah pahaman saja. Sebab mobil yang awalnya dikira oleh warga itu merupakan mobil proyek RTH. Ternyata setelah ditelusuri mobil tersebut adalah pengangkut pasir pemadam.
“Ini persoalan salah paham ji awalnya karna warga di belakang tahan mobil yang dia kira mobil pengangkut pasir RTH padahal itu mobil angkut pasirnya pemadam,”tandas Anugrah. (Thamrin/Red)