Kepala UPTD Kanre Rong Makassar Diperiksa Maraton di Kasus Dugaan Pungli

  • Whatsapp

Bidang Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar terus menggenjot pemeriksaan saksi-saksi dalam tahap penyelidikan kasus dugaan pungutan liar (pungli) di kawasan kuliner Kanre Rong Makassar.

Kepala Seksi Intelijen Kejari Makassar, Ardiansyah Akbar mengatakan terakhir pihaknya memeriksa Kepala UPTD Kanre Rong, Muh. Said tepatnya pada Senin 12 Oktober 2020.

Bacaan Lainnya

“Yang bersangkutan kita periksa sejak pukul 11.00 wita hingga 16.00 wita,” kata Ardiansyah via telepon, Selasa (13/10/2020).

Selain Kepala UPTD Kanre Rong Makassar Muh. Said, pihak Intelijen Kejari Makassar turut memeriksa Kepala Dinas Koperasi dan UKM Makassar, Evy Aprilianti dalam kasus dugaan pungli di kawasan kuliner Kanre Rong tersebut.

“Kalau Kadis itu pekan lalu kita periksa,” ujar Ardiansyah.

Tak berhenti di situ, pihak Intelijen Kejari Makassar kembali akan menjadwalkan pemanggilan terhadap saksi-saksi lainnya yang dinilai mengetahui adanya kegiatan dugaan pungli di kawasan kuliner Kanre Rong yang dimaksud.

“Kita target penyelidikan kasus ini bisa secepatnya rampung untuk selanjutnya ditingkatkan penanganannya ke bidang Pidana Khusus (Pidsus). Kita masih berupaya mantapkan dulu di sini,” terang Ardiansyah.

Pengakuan Pedagang

Terpisah, YL, seorang pedagang yang baru beberapa hari berjualan di kawasan kuliner Kanre Rong, mengaku menyewa kiosnya dengan harga Rp8 juta. YL menyebutkan bahwa dirinya menyewa kiosnya itu dari Muhammad Said selaku pengelola kawasan kuliner Kanre Rong.

“Saya tanya langsung ke pengelola bagaimana prosedur untuk menyewa kios di sini, pengelola atas nama Pak Said, dia sebutkan kios yang mengadap keluar itu Rp700 ribu dan yang menghadap kedalam itu Rp500 ribu per bulan,” kata YL saat ditemui di kawasan kuliner Kanre Rong, Selasa 15 September 2020 sore.

Tak butuh waktu lama, pihak pengelola kemudian menunjukkan salah satu lapak kepada YL. Pihak pengelola kemudian menyebutkan bahwa lapak tersebut  hanya bisa disewa per tahun.

“Awalnya dikasih Rp8,4 juta per tahun, katanya sekarang tidak ada lagi lapak yang di kontrakan perbulan. Terus ditawar Rp7 juta, tapi katanya tidak bisa karena sudah banyak orang yang mau ini tempat, tapi dealnya itu Rp8 juta,” jelas YL.

Setelah sepakat untuk membayar Rp8 juta ongkos sewa kios dengan luas 2×2 meter itu, YL pun langsung memberikan uang tunai tersebut kepada Muhammad Said selaku pengelola kawasan kuliner Kanre Rong. YL sempat meminta tanda bukti penyewaan lapak kepada Muhammad Said, namun saat itu Muhammad Said mengatakan bahwa akan menyerahkan buktinya pada keesokan harinya.

“Saya langsung bayar ke Pak Said. Saya kasih uang Rp8 juta langsung dan besoknya itu saya diberikan kuitansi. Yang bertanda tangan di kuitansi itu bukan Pak Said, tapi atas nama NR,” aku YL.

Belakangan terungkap, ternyata lapak yang disewa oleh YL bukanlah milik pengelola kawasan kuliner Kanre Rong, melainkan milik seorang pedangan kaki lima yang pada Januari 2019 direlokasi ke kawasan kuliner itu.

“Setelah beberapa hari berjualan saya baru tahu kalau ada pemilik pertamanya ini kios atas nama NR,” ungkap YL.

Sementara NR, pemilik pertama kios yang disewa oleh YL mengakui bahwa kios itu adalah miliknya. Pria berusia 65 tahun itu menyebutkan bahwa dirinya telah lama mencari orang yang mau menyewa kiosnya tersebut.

“Saya memang sudah lama cari orang yang mau sewa,” kata NR.

NR tiba-tiba didatangi oleh Muhammad Said dan mengatakan bahwa ada seseorang yang hendak menyewa lapaknya. Saat itu, NR langsung diminta untuk menanda tangani selembar kuitansi yang dibawa oleh Muhammad Said.

“Saya tidak perhatikan, saya langsung tanda tangan saja,” ucap pria lanjut usia itu.

Ironisnya, NR hanya diberi uang sebesar Rp4,5 juta oleh Muhammad Said. Padahal nominal sewa kios itu adalah Rp8 juta.

“Saya dikasih uang dari hasil kontrak lapak saya sebesar Rp4,5 juta, yang diberikan oleh Pak Said,” akui NR.

NR bahkan tidak pernah dipertemukan dengan YL, orang yang menyewa lapaknya. NR baru mengetahui siapa yang menyewa lapaknya setaelah melihat YL berjualan di lapak yang telah ia sewa.

“Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang mau menyewa lapak saya. Nanti tau yang mana orangnya setelah ketemu di sini,” ucapnya. (Rudi/Eka)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *