Alih-alih sekadar tempat menjalani hukuman, Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa kini menjelma menjadi semacam kampus rehabilitasi bagi warga binaan. Reputasinya sebagai pelopor program rehabilitasi sosial berbasis pemulihan menyeluruh kembali menarik perhatian. Kali ini, giliran Lapas Kelas IIB Takalar yang datang langsung untuk belajar dan meniru pola keberhasilan tersebut.
Kunjungan ini tak ubahnya seperti studi lapangan. Rombongan dari Lapas Takalar yang dipimpin langsung oleh Kalapasnya, menyisir setiap sudut fasilitas rehabilitasi di Lapas Sungguminasa. Mulai dari ruang konseling pribadi, sesi terapi kelompok, hingga kegiatan pembinaan spiritual tak luput dari pengamatan serius mereka.
Antusiasme tergambar jelas saat mereka berdialog langsung dengan para pelaksana program dari psikolog, instruktur keterampilan, hingga konselor pendamping.
“Rehabilitasi bukan hanya soal berhenti dari zat, tapi juga tentang mengembalikan makna hidup,” ujar Kalapas Narkotika Sungguminasa, Gunawan, yang menyambut rombongan dengan tangan terbuka dan semangat berbagi.
“Kami sudah lama meninggalkan pendekatan yang hanya menghukum. Yang kami bangun adalah sistem yang menolong,” Gunawan menambahkan.

Program andalan di Lapas ini mencakup asesmen kebutuhan personal warga binaan, pelatihan keterampilan produktif, hingga penguatan spiritual melalui bimbingan agama dan refleksi diri. Tak heran jika Lapas Narkotika Sungguminasa kini diposisikan sebagai model pembinaan modern di lingkungan pemasyarakatan Indonesia.
Kegiatan studi tiru ditutup dengan diskusi interaktif yang membahas tantangan, solusi, serta peluang kolaborasi lintas lapas. Foto bersama menjadi penanda sinergi baru antar lembaga, dengan semangat membangun pemasyarakatan yang bukan hanya menjaga, tapi juga memulihkan.
Di tengah berbagai stigma tentang lapas dan narapidana, Lapas Sungguminasa memberi harapan bahwa di balik jeruji, masih ada ruang belajar, berubah, dan bahkan menjadi inspirasi. (*/Eka)