Sungai Bulu Takke Menelan Seorang Bocah: Antara Alam, Nasib, dan Pencarian yang Berlanjut

Sungai Bulu Takke Menelan Seorang Bocah: Antara Alam, Nasib, dan Pencarian yang Berlanjut.

Bone– Di sebuah aliran sungai tenang yang membelah Desa Lompu, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, petualangan sederhana seorang anak berubah menjadi tragedi. Minggu pagi (28/9), Adityia Reifki, bocah 11 tahun, berangkat bersama teman-temannya menuju Sungai Bulu Takke untuk memancing. Seperti kebiasaan anak-anak desa, sungai adalah ruang bermain, sumber kehidupan, sekaligus jalur untuk belajar tentang dunia. Namun, sore itu, tawa mereka mendadak hening ketika Adityia dilaporkan terjatuh ke air dan hilang terseret arus.

Warga yang berbondong-bondong melakukan pencarian hanya menemukan derasnya sungai yang perlahan diselimuti gelap. Upaya pencarian malam itu tak membuahkan hasil, hingga akhirnya laporan disampaikan kepada Basarnas.

“Informasi kami terima sekitar pukul 22.30 WITA,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Makassar, Muhammad Arif Anwar. “Tim rescue Pos SAR Bone langsung diterjunkan dengan peralatan pertolongan di air, dibantu sejumlah potensi SAR di wilayah Bone.”

Tim gabungan tiba di lokasi dini hari. Mereka menyalakan lampu senter, menelusuri pinggiran sungai, dan melemparkan cahaya ke permukaan air yang pekat. Namun, malam itu, arus lebih kuat daripada pandangan mata.

“Hasil pencarian masih nihil. Kondisi gelap dan kurangnya penerangan memaksa tim melanjutkan pencarian pagi hari ini,” kata Arif.

Operasi SAR kini melibatkan Basarnas, BPBD, TNI/Polri, organisasi penyelamat lokal, serta masyarakat setempat. Perahu karet, tali penyelamat, dan pencarian dari tepian menjadi bagian dari upaya menemukan bocah yang hilang di pelukan sungai.

Sungai Bulu Takke, yang bagi warga desa adalah sumber kehidupan, kembali memperlihatkan wajah alaminya: indah sekaligus berbahaya. Tragedi ini mengingatkan bahwa aliran air yang tampak jinak di permukaan sering menyimpan pusaran dan arus deras di bawahnya—kekuatan alam yang tak pandang usia.

Kini, desa Lompu menunggu dalam doa dan harap, sementara tim penyelamat bekerja melawan waktu dan arus. Bagi Adityia, yang hanya berniat mengisi hari dengan memancing bersama teman-temannya, sungai telah mengubah jalannya cerita. (Eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yang Mungkin Anda Sukai
Langkah Preventif, Rutan Makassar Intensifkan Pemeriksaan Gembok Blok Hunian

Langkah Preventif, Rutan Makassar Intensifkan Pemeriksaan Gembok Blok Hunian

Sidak Berulang di Lapas Narkotika Sungguminasa, Menjaga Disiplin dari Dalam

Sidak Berulang di Lapas Narkotika Sungguminasa, Menjaga Disiplin dari Dalam

Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, GAM Blokade Jalan Pettarani

Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, GAM Blokade Jalan Pettarani

error: Special Content !