Makassar — Upaya membangun manusia tak pernah sepenuhnya terhenti, bahkan di balik tembok rumah tahanan. Itulah semangat yang mengemuka saat Rutan Kelas I Makassar melakukan kunjungan kerja ke Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Rabu (7/12/2026), guna memperkuat pembinaan perpustakaan dan budaya literasi bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Kunjungan tersebut menjadi penanda kesadaran bahwa pembinaan warga binaan tidak semata bertumpu pada aspek keamanan dan disiplin, melainkan juga pada penguatan kapasitas intelektual dan kepribadian. Literasi diposisikan sebagai jembatan penting menuju proses reintegrasi sosial yang lebih manusiawi.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, jajaran Rutan Kelas I Makassar dan Dinas Perpustakaan Kota Makassar membahas sejumlah agenda strategis. Mulai dari pendampingan pengelolaan perpustakaan rutan, penambahan koleksi bacaan yang edukatif dan inspiratif, hingga pengembangan program literasi seperti pojok baca, diskusi buku, dan pelatihan pengelolaan perpustakaan sederhana yang melibatkan warga binaan secara langsung.
Kepala Rutan Kelas I Makassar, Jayadikusumah menegaskan bahwa akses terhadap bacaan berkualitas merupakan bagian integral dari pembinaan kepribadian. Di tengah keterbatasan ruang dan waktu, buku diharapkan menjadi medium pembelajaran, refleksi, sekaligus harapan bagi warga binaan untuk menata kembali masa depannya.
“Literasi memberi ruang bagi warga binaan untuk berpikir ulang tentang dirinya dan kehidupan yang akan dijalani setelah masa pidana berakhir,” ujar Kasi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas I Makassar, Angga Satrya.
Menurutnya, buku tidak hanya menyajikan pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana rekreasi yang sehat dan bermakna di lingkungan rutan.
Pihak Dinas Perpustakaan Kota Makassar menyambut positif kerja sama tersebut. Mereka menilai bahwa kehadiran perpustakaan harus melampaui ruang-ruang publik konvensional dan menjangkau kelompok masyarakat khusus, termasuk warga binaan, sebagai bagian dari mandat mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sinergi ini diharapkan mampu menghadirkan pembinaan literasi yang berkelanjutan di Rutan Kelas I Makassar. Lebih dari itu, langkah ini menjadi ikhtiar kecil namun penting dalam menumbuhkan budaya membaca dan belajar—bahkan dari tempat yang kerap dipandang sebagai ruang keterbatasan. (Eka)