Maros — Di tengah rutinitas pembinaan yang padat dan kehidupan yang serba terbatas, tawa tiba-tiba pecah di aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros. Puluhan warga binaan larut dalam adegan lucu film “Kang Mak from Pee Mak”, sebuah film komedi-horor asal Thailand yang diputar dalam kegiatan nonton bareng (nobar), Jumat (24/10/2025).
Acara sederhana itu, bagi sebagian orang mungkin tampak sepele. Namun bagi para warga binaan, momen seperti ini menjadi ruang bernapas sejenak melepas ketegangan dan mengingat kembali rasa kebersamaan yang sering hilang di balik jeruji.
Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, menyebut kegiatan nonton bareng sebagai bagian dari strategi pembinaan berbasis rekreasional dan emosional. Menurutnya, hiburan yang bersifat edukatif penting untuk menjaga keseimbangan psikologis warga binaan.
“Kami ingin menghadirkan suasana yang lebih manusiawi di dalam Lapas. Melalui kegiatan seperti ini, warga binaan bisa belajar nilai kebersamaan, empati, dan kebahagiaan sederhana,” ujar Ali Imran.
Film yang mengangkat tema persahabatan dan keberanian menghadapi ketakutan itu dipilih bukan tanpa alasan. Di tengah tawa dan adegan lucu, terselip pesan moral tentang pentingnya saling percaya dan tidak menyerah pada rasa takut, pesan yang relevan bagi mereka yang sedang menjalani proses perbaikan diri.
Suasana keakraban terasa kental sepanjang pemutaran film. Gelak tawa sesekali pecah, beberapa warga bahkan tampak saling bertukar komentar ringan. Usai film berakhir, sebagian besar warga binaan enggan langsung beranjak, seolah ingin mempertahankan suasana hangat yang jarang mereka rasakan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa rutin diadakan. Rasanya seperti kembali menjadi manusia yang bebas, walau hanya sebentar,” ucap salah satu warga binaan dengan mata berbinar.
Kegiatan nonton bareng di Lapas Maros ini menjadi contoh kecil bagaimana pemasyarakatan tak selalu identik dengan penjara dan pembatasan, tetapi juga tentang membangun kembali rasa kemanusiaan. Di tengah tembok tinggi dan pagar kawat, tawa warga binaan malam itu menjadi tanda bahwa proses pemulihan moral bisa lahir dari hal sesederhana sebuah film dan momen kebersamaan. (Eka)