Gowa— Di sebuah ruang kelas sederhana yang berdiri di dalam tembok penjara, warga binaan Lapas Narkotika Sungguminasa kini kembali membuka buku pelajaran. Bagi mereka, kesempatan ini bukan sekadar belajar membaca rumus atau menghafal sejarah, melainkan upaya merebut kembali masa depan yang sempat tertinggal.
Bekerja sama dengan penyelenggara pendidikan nonformal, pihak lapas membuka program Paket A, B, dan C — jalur kesetaraan bagi pendidikan dasar, menengah, hingga setingkat SMA. Setiap pekan, warga binaan duduk di bangku kelas untuk mengejar ijazah yang suatu hari dapat menjadi kunci keluar dari lingkaran stigma dan keterbatasan.
Kepala Lapas, Gunawan, menyebut pendidikan sebagai jantung dari pembinaan. “Kami ingin memastikan bahwa warga binaan tidak hanya pulih dari sisi perilaku, tetapi juga punya kesempatan meningkatkan kualitas diri. Ijazah bisa jadi awal baru ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Langkah ini memperlihatkan wajah lain dari sistem pemasyarakatan Indonesia: sebuah pendekatan yang lebih humanis. Di tengah beban stigma dan keterbatasan fasilitas, pendidikan menjadi ruang untuk menumbuhkan kembali harapan. Tidak hanya membina moral atau keterampilan kerja, tetapi juga mengembalikan hak dasar untuk belajar, hak yang terlalu sering hilang ketika pintu sel tertutup. (Eka)