Satu Tahun Bergerak, dari Jeruji ke Produktivitas: Cerita Lapas Narkotika Sungguminasa yang Tak Sekadar Mengurung

Gowa — Setahun sudah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIPAS) di bawah komando Menteri Agus Andrianto berjalan. Bukan waktu yang panjang, tapi cukup untuk menimbulkan riak perubahan sampai ke ujung-ujung lorong pemasyarakatan termasuk ke Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, Gowa.

Lapas ini seakan menolak diam. Dalam setahun terakhir, mereka bergerak mengikuti napas “13 Program Akselerasi” sang menteri. Kalau kebanyakan orang membayangkan lapas hanya tempat orang menunggu waktu berlalu, di Sungguminasa justru waktu dijalankan seperti ladang: digarap, ditanami, dan diharapkan berbuah perubahan.

Dari Sidak ke Sawah, dari Pengawasan ke Penanaman

Program pertama, soal pemberantasan narkoba di dalam lapas, dijalankan bukan dengan jargon tapi dengan langkah kaki berupa sidak rutin, penggeledahan kamar, sampai pengawasan pengunjung yang ketat. Di Sungguminasa, keamanan bukan sekadar soal kunci dan gembok, tapi soal menjaga harapan agar ruang pembinaan tetap bersih dari segala bentuk racun baik zat maupun kebiasaan buruk.

Namun yang menarik, Lapas ini tak berhenti di “menjaga agar tidak ada yang salah”. Mereka juga sibuk “membuat hal-hal baik tumbuh”. Dalam program ketahanan pangan, warga binaan diajak berkebun, menanam sayur, bahkan ikut dalam gerakan penanaman kelapa di Maros. Siapa sangka, tangan-tangan yang dulu mungkin salah arah, kini justru menumbuhkan kehidupan baru.

Dari Mebel ke Makna Baru

Lapas Narkotika Sungguminasa juga punya bengkel kerja. Di sanalah warga binaan belajar membuat sofa, meja, hingga perlengkapan rumah tangga. Di balik setiap potongan kayu dan jahitan busa, tersimpan pelajaran sabar dan telaten. Produk-produk itu kini jadi unggulan bukan hanya karena kualitasnya, tapi karena setiap barang punya cerita tentang kesalahan yang sedang ditebus dan keahlian yang sedang tumbuh.

Berbagi Sambil Berbenah

Tak berhenti pada pelatihan, Lapas ini juga berbagi. Warga binaan bersama petugas menyalurkan sembako dan hasil kebun untuk keluarga dan masyarakat sekitar. Di tengah segala stigma soal penjara, kegiatan kecil seperti ini pelan-pelan mengikis jarak antara “dalam” dan “luar”. Lapas bukan hanya soal menebus, tapi juga kembali memberi.

Menjaga Keseimbangan di Tengah Sesak

Masalah overkapasitas memang klasik, tapi Sungguminasa memilih menghadapi dengan strategi, bukan keluhan. Mereka melakukan penataan dan pemindahan penghuni agar suasana tetap aman dan manusiawi. Karena di balik setiap penghuni, ada hak yang tetap harus dijaga yakni hak untuk menjalani pembinaan dengan layak dan bermartabat.

Apresiasi dan Arah Baru

Kepala Kanwil Kemenkumham Sulsel, Rudi F. Sianturi, menyebut Lapas Narkotika Sungguminasa sebagai contoh konkret semangat 13 Program Akselerasi.

“Langkah-langkah mereka menunjukkan komitmen kuat menjaga keamanan, meningkatkan produktivitas, serta membangun budaya kerja yang profesional dan berintegritas,” ujarnya.

Dan benar saja, Lapas ini kini bukan sekadar tempat pembinaan, tapi juga laboratorium perubahan. Di sana, orang belajar bahwa kesalahan bisa jadi titik balik, bukan titik akhir.

Satu tahun berjalan, Lapas Narkotika Sungguminasa bukan hanya mengikuti arahan menteri tapi mereka menjadikannya nyata. Dari sidak hingga kebun, dari mebel hingga sembako, mereka membuktikan satu hal sederhana bahkan di balik tembok tinggi dan jeruji besi, perubahan tetap bisa tumbuh asalkan ada ruang untuk bergerak dan berdampak. (Eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yang Mungkin Anda Sukai
Empat Petugas Rutan Pangkep Masuk Satops Patnal

Empat Petugas Rutan Pangkep Masuk Satops Patnal

Klinik Lapas Narkotika Sungguminasa Capai Standar Tertinggi Kemenkes

Klinik Lapas Narkotika Sungguminasa Capai Standar Tertinggi Kemenkes

Lapas Maros Beri Penghargaan Petugas Teladan

Lapas Maros Beri Penghargaan Petugas Teladan

error: Special Content !