Pagi baru saja membuka lembar cahayanya ketika halaman Lapangan Campagayya dipenuhi jejak kaki para pelajar SMP-SMA Al-Muttaqiem. Langit biru yang bersih seperti turut memberi restu.
Di bawah kibaran Merah Putih yang tegak menantang angin, tawa siswa pecah seperti denting merdeka paling jujur, menyusup hingga sudut-sudut kampung, menggugah mereka yang menyaksikan.
Tak ada panggung megah. Tak pula orkestra yang menggelegar. Namun, melalui sederet lomba sederhana yakni tusuk botol, balon kereta, goyang kardus bola, hingga corong air menjadi spirit kemerdekaan menemukan kembali rumahnya. Setiap langkah, jatuh bangun, bahkan kelucuan peserta, menjelma pesan senyap tentang bagaimana perjuangan pernah dipertahankan dengan air mata, peluh, dan keyakinan.
“Lomba ini bukan sekadar soal hadiah, tetapi mengetuk kesadaran anak-anak bahwa kemerdekaan lahir dari perjuangan dan pengorbanan,” tutur Muhammad Rais Samad, Kepala SMP-SMA Al-Muttaqiem. Suaranya pelan, tapi sarat keyakinan.
Sebanyak 70 siswa turut ambil bagian dalam perlombaan. Ketua panitia yang juga Kepala SMP Al-Muttaqiem, Fatayat Surya Rais, menuturkan hadiah hanya menjadi pemacu semangat, sementara hakikat perlombaan adalah merawat rasa kebangsaan.
“Kami ingin momen ini menumbuhkan kembali kesadaran siswa untuk terus belajar dan berbuat yang terbaik bagi negeri,” ujarnya.
Di sisi lapangan, para guru, orang tua, dan warga sekitar berdiri memberi dukungan. Sorak-sorai menggema ketika peserta tergelincir, salah strategi, atau berhasil mencapai garis akhir. Keriuhan itu tidak sekadar memeriahkan HUT ke-80 RI, melainkan menjadi jembatan batin antara masa lalu dan masa depan.
“Kemerdekaan ini bukan hadiah yang datang begitu saja. Ia adalah nyala yang harus dijaga. Dan hari ini, anak-anak sedang membantu menjaga nyala itu,” ujar Abah Rais menutup rangkaian kegiatan, sembari memandang bendera yang berkibar di ujung lapangan seperti mengingatkan, bahwa tugas mencintai tanah air tak pernah selesai. (Thamrin/Eka)