Menu

Mode Gelap
KPK Geledah Kantor Dinas PUTR Sulsel? PPCD Siap Gelar Pendaftaran Bakal Calon Direktur PNUP Oknum Polri Jadi Algojo Habisi Nyawa Najamuddin Sewang Polsek Bontonompo Kesampingkan Perma 2 Tahun 2012? Kanitres Bungkam Babak Baru Kasus Dugaan Korupsi Proyek Infrastruktur Wisata Toraja Rp40 M

Edukasi · 18 Jul 2022 19:21 WITA

Siswa Baru di MTs Negeri 1 Makassar Dimintai Uang Rp5,6 Juta


 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Makassar. Perbesar

Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Makassar.

Lembaga Anti Corruption Committee Sulawesi (ACC Sulawesi) mengungkap adanya dugaan pungutan liar yang dialami oleh sejumlah orang tua yang anaknya baru saja dinyatakan lulus dalam seleksi penerimaan siswa baru di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Makassar.

“Ada beberapa laporan dari orang tua siswa baru di sana yang kami masuk ke kantor disertai bukti jika mereka betul dimintai membayar uang sebesar Rp5,6 juta,” ucap Ketua Badan Pekerja Anti Corruption Committee Sulawesi, Kadir Wokanubun kepada Kedai-Berita.com, Senin (18/7/2022).

Menurut penjelasan beberapa orang tua siswa baru tersebut, beber Kadir, permintaan tersebut berasal dari pihak Komite Sekolah MTs Negeri 1 Makassar untuk peruntukan sumbangan jariah diantaranya sejuta untuk pembangunan Masjid, sejuta lagi untuk fasilitas ruang kelas dan sisanya uang peningkatan mutu pendidikan.

“Hal ini jelas tidak dibenarkan. Itu bisa mengarah pada dugaan pungutan liar (pungli). Seluruh kegiatan fisik dalam lingkup sekolah itu punya notulen anggaran tersendiri salah satunya menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Jadi tidak dibenarkan membebankan biaya kegiatan fisik seperti pembangunan dan pengadaan itu kepada orang tua siswa,” terang Kadir.

Ia meminta Aparat Penegak Hukum (APH) yakni Kejaksaan atau Kepolisian untuk segera mengusut adanya dugaan pungli dalam hal penerimaan siswa baru di lingkup MTs Negeri 1 Makassar tersebut.

“Kami dukung penegak hukum segera mengusut kasus ini hingga tuntas. Bayangkan jika tahun ini di sana ada sekitar 400 orang siswa baru yang diterima dikalikan dengan permintaan Rp5,6 juta per siswa maka nilainya mencapai Rp2 miliar lebih,” ungkap Kadir.

Baca Juga :  ACC Minta Kejati Tak Abaikan Peran Seluruh Panitia Pengadaan Lahan di Kasus Underpas

Hana, Wakil Kepala Bagian Humas MTs Negeri 1 Makassar membenarkan adanya permintaan uang senilai Rp5,6 juta kepada sejumlah orang tua siswa baru tahun ini.

Meski demikian, ia membantah jika hal tersebut dikategorikan sebagai dugaan pungli. Permintaan uang Rp5,6 juta itu, kata dia, hanya ditujukan bagi yang mampu dan sifatnya dipergunakan selama 3 tahun.

“Yang tidak mampu tidak sama sekali, tidak mungkin yang tidak mampu,” kata Hana saat ditemui di ruangan kerjanya, Senin (18/7/2022).

Ia mengungkapkan, uang senilai Rp5,6 juta yang dimaksud rencananya diperuntukkan untuk pembangunan Masjid yang hingga saat ini belum rampung. Tak hanya itu, dana tersebut juga sebagai amal jariah serta peruntukan fasilitas ruangan kelas.

“Jadi itu Rp5,6 juta masing-masing Rp1 juta untuk Masjid, Rp1 juta untuk amal jariah karena sekarang siswa tidak muat di Masjid, sementara pembangunan belum selesai. Itu yang keduanya iye, itu kan untuk dunia akhirat orang tua dan anaknya toh,” ungkap Hana.

“Kemudian Rp1 juta itu untuk kelas digitalnya, jadi sekarang itu anak anak kelasnya semua full AC dengan fasilitas kelas deluxe semuanya, sudah di walpaper semua, dan itu bisa dibuktikan semua. Insya Allah pekan ini semua selesai, jadi di dalam adami tv-nya semua smart tv, jadi nanti yang nikmati anaknya ji mereka,” Hana menambahkan.

“Kemudian itu selebihnya Rp3,6 juta untuk pengembangan Madrasah, itu pun dimudahkan bagi yang tidak mampu, bisa dia cicil Rp100 ribu per bulan, kan ada wifi, harus pake wifi karena digital, nggak mungkin Madrasah mau menyiapkan,” lanjut Hana.

Baca Juga :  Antusias Orangtua Murid SD Inpres Perumnas Antang 1 Dukung Vaksinasi 6-11 Tahun

Ia mengatakan, seluruh pembiayaan kegiatan fisik yang dijelaskan di atas, sumber anggarannya tetap dikombinasi antara dana Madrasah dengan Komite. Adapun kegiatan yang menyangkut dengan pengembangan sekolah dibebankan kepada Komite langsung bukan sekolah.

“Tidak adaji yang tidak membayar. Kalau tidak mampu kan tidak mungkin, tapi kan di sini itu orang tua semua tidak masalahji kecuali pura-pura tidak mampu, kan anaknya kasian, kan sama-sama menikmati, jadi di sini bagi yang tidak mampu tidak dipaksakan,” tutur Hana.

Sekolah dalam hal ini pihak MTs Negeri 1 Makassar hanya menyampaikan seluruh program Madrasah termasuk program yang tidak diback-up oleh dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) tapi dikelola oleh Komite. Mana mungkin Madrasah bisa mengerjakan semua yang nilainya tentu besar sehingga membutuhkan partisipasi dari orang tua siswa.

Seperti kemarin, kata Hana, ada siswa penghapal Qur’an yang kemudian memiliki kehidupan ekonomi yang terbilang tidak mampu karena orang tuanya kerjanya hanya memungut barang bekas. Tentu hal tersebut butuh bantuan.

“Kecuali ada yang pura-pura tidak mampu. Misalnya, saya ini PNS tapi tidak mampu Bu, tapi kan bersyukurki karena PNS ki Pak toh, baru itu kan untuk amal jariah didirikan Masjid kan bukanji untuk siapa-siapa, dunia akhiratji, saya kira begitu pak,” ucap Hana.

Ia meyakini, kewajiban membayar uang sebesar Rp5,6 juta bagi sejumlah orang tua siswa tidak ada masalah. Bahkan, kata dia, orang tua siswa tentu menilai hal itu tidak berarti karena untuk hal positif diantaranya pengembangan Madrasah.

“Saya kira orang tua tidak berarti dia rasa karena saya juga orang tua, saya juga tetap menyumbang untuk madrasah, untuk pendidikan, jadi kalau tidak mauki seperti itu ya tertinggal. Tapi sekali lagi saya tekankan, ini dikombinasi dari dana Madrasah dengan dana Komite. Jadi misalkan seperti pembangunan Masjid, kan tidak mungkin itu semua dananya orang tua di situ cukup sampai selesai. Kami juga guru-guru menyumbang, tiap bulan setelah gajian, kami donatur tetap,” terang Hana.

Baca Juga :  Tantangan Pegiat Anti Korupsi untuk Kapolda Sulsel Baru

Masjid, kata dia, untuk kepentingan bersama dan mudah-mudahan pembangunannya cepat rampung sehingga anak-anak bisa menikmati. Demikian juga kelas digitalnya yang tujuannya untuk melek ITE sebagaimana MTs Negeri 1 Makassar merupakan Madrasah digital.

“Jadi saya bilang sama orang tua, datang maki buktikangi, seperti apa nanti kelasnya anaknya, kalau tidak eksklusif berarti saya yang salah. Nanti saya sampaikan di Komite,” tutur Hana.

Ia sekali lagi menegaskan bahwa permintaan uang sebesar Rp5,6 juta merupakan murni program Komite.

“Jadi kita itu kombain dengan dana Madrasah karena tidak mungkin itu kalau dana BOS, apalagi ini kan ada beberapa memang terblokir anggaran, tidak bisa terpakai, betul-betul kita terpukul sementara kita mau maju, apalagi lomba-lombanya itu sampai go nasional, apalagi robotik sampai go internasional. Kalau lomba robotik itu sampai makan ratusan juta,” Hana menegaskan.

Adapun jumlah siswa yang diterima tahun ini, kata Hana, ada sekitar 480 siswa. Di mana terdapat 12 kelas dan tiap kelas berisi 40 siswa.

“Alhamdulilah tahun ini yang diterima 12 kelas, sekelas 40 siswa,” Hana menandaskan.(Thamrin/Eka)

Artikel ini telah dibaca 309 kali

Baca Lainnya

Pesantren An Nahdlah Gelar Pelatihan Berbasis Kompetensi

13 Juli 2022 - 18:42 WITA

Prof Akbar Silo Dilantik Sebagai Rektor ITSBM Selayar

12 Juli 2022 - 21:48 WITA

Komite dan Kepala Sekolah Punya Peran Bangun Pendidikan

28 Juni 2022 - 16:23 WITA

Pimpinan Kedai-Berita.com Silaturahmi ke UPRI Makassar

23 Juni 2022 - 23:22 WITA

Ini Pesan Rudianto Lallo ke IKA SMAN 6 Makassar Angkatan 86

26 Mei 2022 - 21:00 WITA

Jaksa Sasar 53 Kepsek SMP di Makassar, Ada Apa?

25 Mei 2022 - 18:39 WITA

Trending di Edukasi
error: Hai! Pengunjung Kedai-berita.com