Meraba Aktor Penganiayaan dan Percobaan Pembunuhan di Bulukumba, Ini Kata Kades

  • Bagikan

Kala kasus penganiayaan dan percobaan pembunuhan di desa Tanah Harapan Kec.Rilau Ale Bulukumba mencuat ke ruang publik berbagai tafsir pun muncul. Apalagi hanya selang seminggu terjadi dua kasus tersebut.

Diduga ada kepentingan pihak lain yang “sengaja” merawat perebutan pengaruh antara para petani atas lahan sawah dan kebun yang luasnya kurang lebih 31 Ha itu Apatalagi posisi lahan tersebut sangat strategis, berada di pinggir Jl poros Bulukumba-Sinjai.

Ragam tafsir itu seakan mendapat pembenaran karena belum jelas penanganan dua kasus pidana tersebut. Kemudian lahan seluas 31 Ha yang berdasarkan putusan Mahkam Agung Republik Indonesia yang berkekuatan hukum tetap tahun 2001 dan telah eksekusi tahun 2005 adalah milik 55 petani.

Dikabarkan walau milik 55 petani tetapi fakta lapangan menunjukan kurang lebih 20 Ha dikuasai oleh seorang lelaki insial Nr dengan keturunannya, bahkan diduga ada yang sudah terjual dan digadai.

Muncul pertanyaan mengapa sudah kurang lebih 16 tahun negara tidak hadir untuk mengatur? Mengapa dibiarkan “pertarungan bebas” sehingga yang kuat menguasai yang lemah? Akibatnya ada sejumlah petani yang namanya tercantum dalam putusan tetapi takut mengola lahan tersebut.

Ada informasi bahwa persoalan ketidak nyamanan mengola lahan tersebut sehingga tidak kurang dari 45 petani menghibahkan tanahnya kepada Tandi bin Banuasse.

Untuk mengurai atau membuat jelas masalah ini Tim Kedai-berita.com berupaya menyelisik, dan menyajikan ke sidang pembaca yang Budiman secara bersambung.

Ketua DPC LSM Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia(LCKI)
Makassar, Andi Pangeran SH, di salah satu Warkop di Jl Daeng Ngepe Makassar, Sabtu (23/10/2021), mengatakan, “Sesuai hasil investigasi lembaganya, kasus percobaan pembunuhan terjadi di depan rumah korban Coppo bin Mantahia tanggal 25 September 2021 malam kurang lebih pukul 20 Wita.
Pelakunya lelaki insial SK bin Nr Kejadian ini telah dilaporkan, sesuai tanda terima laporan polisi no.STTL/442/IX/2021/SPKT/Polres Blkl.”.

“Sementara kasus penganiayaan terjadi pada tanggal 02 Oktober 2021 siang hari kira-kira pukul 14.00 Wita. Pelaku penganiayaan lelaki berinsial Cg bin Nr korban, bernama Salasing Kejadian ini pun telah dilaporkan ke Polsek Rilau Ale, Nomor: STPL/ 45/X/2021/ Sek Rilau Ale,” beber Andi Pangeran yang karib disapa Andipa ini l

Menurut Andipa, “Kasus percobaan pembunuhan sejatinya sudah terungkap bahkan pelakunya sudah ditangkap mengingat para pelaku dari kelompok atau satu keluarga yang sama yakni anak-anak dari lelaki insial Nr ”

“Khusu kasus percobaan pembunuhan, saat kejadian ada 0knum polisi yang berinsial SU cepat hadir di TKP(Tempat Kejadian Perkara. Bahkan oknum polisi berinsial SU yang membonceng lelaki insial SK yang diduga pelaku meninggalkan TKP,” terang Andipa.

Baca Juga :  KPK Supervisi Kasus Dugaan Suap Proyek DAK di Kabupaten Bulukumba

Berdasarkan fakta ini maka LCKI mendesak Kapolres Bulukumba untuk memeriksa oknum polisi berinsial SU yang bertugas di bagian Provos Polres Bulukumba itu.

Mengapa oknum polisi tersebut harus diperiksa karena diduga tidak taat/mengabaikan perintah Undang+Undang.
Berdasarkan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (“UU 2/2002”), tugas pokok kepolisian adalah:memelihara keamanan dan menjaga ketertiban masyarakat menegakan hukum dan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

Kemudian bila dihubungkan dengan, kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).Pasal 108 ayat 1, ayat 2 dan ayat 3. Bunyi.
ayat (1) ‘Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tertulis.

Ayat (2,( berbunyi :Setiap orang yang mengetahui pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terhadap ketenteraman dan keamanan umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak milik wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut kepada penyelidik atau penyidik.

Ayat (3) Setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan tugasnya yang mengetahui tentang
terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana wajib segera melaporkan hal itu kepada
penyelidik atau penyidik.

Lelaki kelahiran Bulukumba yang saat ini berprofesi sebagai advokat ini mengakhiri pembicaraan dengan mejelaskan secara singkat kronologis kejadian hasil investigasi LCKI

“Malam itu datang seorang laki-laki berinsial SK membawah badik dan berteriak-teriak eh tal*s* keluar ko dari rumahmu saya kasih keluar isi perutmu Saya bunuh kamu tail*s*, tutur Andipa.

“Atas dasar teriakan dan kata-kata kasar dan mengancam membunuh sehingga warga tetangga baik laki-laki maupun perempuan berteriak dengan kata-kata tolong-tolong mau dibunuh pak Coppo,” tutupnya.

Semantara itu salah satu warga dusun Bonto Masunggu Desa Baji Minasa Kec. Rilau Ale Bulukumba Tandi bin Banuasse
yang mengatahui kejadian sekaligus pelapor dugaan pidana penganiayaan.
Saat ditemui di rumahnya Senin(25/10/2021),mengatakan, “Sebelum anggota saya turun kerja sawahnya pak Copo, saya telah menyampaikan(minta izin ) kepada pak Kades, Tanah Harapan, sebanyak dua kali.”

Menurut Tandi, ‘Pemberitahuan
pertama, saat saya ketemu dengan pak desa di Dusun Bonto-Binto Desa Polewali pada hari Rabu 29 September 2021, malam. Waktu itu pak Kades mengatakan silakan saja karena sawah itu milik pak Copo.”

Lanjut Tandi, “Minta izin yang Kedua, pada saat bertemu dengan pak desa di rumah Copo, waktu itu hari Sabtu tanggal 2 Oktober 2021, saat itu pak Desa mengatakan silakan saja garap sawahnya Copo, karena memang itu miliknya Copo, asal jangan mengerjakan sawah miliknya Nurung.”.

Baca Juga :  Kasus Tambang Ilegal di Bulukumba, Aktivis PPM Minta Polda Sulsel Berlaku Tegas

“Bahkan saat itu pak desa memastikan kondisi aman karena sudah berkomunikasi dengan Nurung dan anaknya Culung,” beber Tandi.

Semantara itu Kades Tanah Harapan Arifin Para yang dikonfirmasi via WhatsApp Selasa(26/10/2021) menjelaskan melalui rillis tertulis yang cukup panjang,.

ini bunyi rillisnya,
“Begini pak sekedar meluruskan ini penyampaian pak tandi kekita memang kami pernah ketemu dgan pak tandi dua kali tapi kami tdak pernah menyuruh bahwa masuk kerja sawahx pak coppo bahkan kami seolah olah sebagai pemerintah mau jadikan korban kenapa saya bilang begini karna pak coppo itu datang dikantor desa pada tgl 29 September 2021 tepat hari rabu jam 09 pagi meminta permohonan pengukuran dengan alasan akan dipasilitasi oleh sesorang ke pertanahan. makax saya kasih pengantar untuk kepertanahan dan saya tembusi ke polsek pada waktu itu tapi pak tandi sendiri yg bawakan kepolsek berdasarkan penyampaian babinkantikmas desa kami itu tembusan jadi hari jumat jam satu saya bersama kepala Dusun bertemu dengan pak nure bahwa ada permintaan saudara pak coppo untuk pengukuran jadi pada waktu saudara pak nure memberi kami waktu 1sampai 2 hari untuk kordinasi dengan teman temanx tapi pada malam sabtu pak tandi WA bahwa dia mau masuk kerja besok dilokasi itu jadi pagi saya datang dirumah saudara pak coppo menyampaikan bahwa seperti ini maux pak nure tapi pada waktu pak tandi datang dirumah coppo tdak ada lagi alasan bahwa dia harus menguasai lahan dulu makax saya bilang sama coppo klau kita mau masuk ya saya tdak menyuruh dan saya tdak melarang itu hak pak coppo sebagai pemenang eksekusi setau saya jadi saya bilang sama pak coppo kenapa minta pengantar permohonan pengukuran dikantor baru lain lagi mau dilakukan yg dia usulkan kesaya belum sempat saya ketemu pak nure tapi traktor saudara pak tandi sudah dilokasi makanx pada waktu saya ditanya juga oleh kelompok pak nure karna dia berpikir bahwa beda yg saya sampikan hari jumat beda kejadian dihari sabtu dan menurut pengakuan pak tandi katanx tanah disana sudah diserahkan sepenuhnya oleh pak coppo makax saya bilang ke pak tandi klau begitu apa gunax saya sebagai pemerintah dimintai untuk memberikan pengantar pengukuran klau toh ada juga massa mau dikasi masuk makanx pihak pak nure tdak mengerti karna yg saya sampikan ke pak nure lain yg mau dikerjakan pak coppo jadi begini pak ditanah lokasi itu sekarang pak terus terang setau saya dieksekusi tahun 2005 klau tdak salah sampai sekarang tdak ada kesepakatan bahkan sudah dimediasi oleh pemerintah sebelumx tapi tdak ada hasil makax saya coba masuki untuk jalur mediasi dengan pengukuran karna disana itu pak tdak orang lain masih dia sendiri berkeluaarga antara pak coppo nenek dan pak nure kemanakan jadi susah klau kekerasan disana mau perlihatkan pak contoh kejadian kemarin pak bisa diambil pelajaran pada saat kejadian pak coppo tdak di apa apakan oleh kelompok pak nure jadi selamat sudah dieksekusi itu tanah belum di tau batas batas kepemilikan berdasarkan hasil eksekusi di 57 orang yg saat ini terbagi menjadi dua kelompok antara kelompok pak nure 17 dan pak coppo 31 ini setiap tahun in PR buat siapa saja pemerintah Desa di tanah harapan pak jadi minta maap ini pak sebagai lembaga dan mitra untuk selalu membantu kami dalam keamanan desa kami dan sibasax bisa berbuat adil dan jangan cuma salah satu pihak yg didengar penyampaianx… Terus terang pak seandaix pak coppo tdak gegabah mengambil keputusan untuk menguasai lahan sebelum pengukuran turun tdak akan seperti ini disini sebenar sudah ada titik terang kami sudah kordinasi dengan pihak pertanahan dan pemerintah kabupaten kabupaten selaku bupati mberikan kami sinyal bahwa silahkan pak desa bikinkan daftar nama pemenan eksekusi lengkap dengan batas batas baru perhadapkan dengan saya atau di pertanahan tapi baru kami melangkah lain lagi maunya…. Jadi tanah disana pak sulit klau diantara dua kubu ini tdak mau berdamai karna msing masing punya bukti…. Jadi sekali lagi kami menyampaikan sesuai apa yg kami ketahui sebagai pemerintah Desa dan kami tetap melanjutkan sesuai arahan pak bupati bahwa silahkan mediasi tentukan batas batasx masing masing pemenang eksekusi…. Karna kami tdak mau lagi warga kami pak setiap tahun ada kejadian seperti ini… Kami mau tenang desa kami tampa campur tangan orang luar yg hanya ingin mengacaukan situasi desa kami…. Mohon maap sebelumx klau ada kata kata saya tdak berkenang mohon dimaapkan karna manusia itu tdak ada yg sempurna…..karna kesempurnaan itu hanya milik Allah… 🙏🙏🙏🙏. (M.Said Welikin/Irfan)

Baca Juga :  Apa Kabar Penyelidikan Dugaan Suap Proyek di Bulukumba
  • Bagikan