Utang Kakek 600ribu, 2021 Jadi 40juta Kini Bersoal di Polsek Bissappu Bantaeng

  • Bagikan

Permasalahan utang piutang bila tidak diselesaikan secara baik sebelum salah satu pihak meninggal dunia maka akan jadi masalah.

Seperti kejadian yang terjadi kampung Campagaloe Kelurahan Bonto Jaya Kecamatan Bissappu Bantaeng,

Gegara Kakek Jumalang, anak cucunya saling berhadapan di Polsek Bissappu Bantaeng. Bagaimana permasalahan ini sehingga polis ikut terlibat, wartawan media ini, berupaya menelisik dan akan menyajikan secara bersambung.

Salah satu menantu kakek(Nene) Jumalang yakni Kada, kepada media ini saat ditemui di samping jembatan PLTU Tello Makassar Minggu(17/10/2021) sore,
menceritakan, “Masalah utang piutang itu berawal dari mertua laki-laki saya Jumalang menggadai rumah tempat tinggalnya kepada Ria, tanpa sepengetahuan saya, kalau di kampung Istilah uang lebih, sebesar Rp300ribu, kembali Rp600ribu, setelah panen kapas.”

“Pas jatuh tempo, tidak ada uangnya mertua, saya pun tidak ada uang, beruntung waktu itu ada salah satu cucu Jumalang, bernama Arifin. Apalagi waktu itu Arifin sudah punya penghasilan tetap. Sehingga saya bilang sama Arifin tolong selamatkan Jumalang, karena kalau kita bantu Jumalang selamat juga rumah saya.
Kejadian itu, tepatnya tahun berapa saya lupa tetapi kira-kira awal 90-an,” ucap Kada.

Seiring berjalannya waktu, kurang lebih dua bulan lalu saya dilapor oleh adik ipar saya Siti Hasmina ke polisi atas tuduhan pengrusakan rumah. Kemudian saya ditelpon oleh Babinsa untuk naik di kampung agar dibicarakan secara kekeluargaan di kantor Polsek Bissappu,” ungkap Kada.

“Saya dan Hasni anak perempuan saya berangkat ke Polsek Bissappu, Di sana sudah ada M Arifin Daeng Nai, tantenya Arifin yakni Ria, dan Hasmina. Hari itu barulah saya ketahui Hasmina telah melapor saya dengan tuduhan diduga melakukan pengrusakan rumah dan penjuaalan meteran listrik,” urai Kada.

Menurut Kada, “Tuduhan pengrusakan dan penjualan meteran listrik, jelas saya tidak terima.Dengan beberapa alasan. Pertama, rumah itu saya beli dengan uang hasil keringat sendiri, dari suami Kaka ipar saya yang bernama Hasan Daeng Saro. Dan perlu diketahui Daeng Saro ini adalah ayah tiri M Arifin Daeng Nai.

Penampakan rumah yang dibongkar Kada

“Kedua, rumah itu sangat tidak layak huni karena banyak papan dan tiangnya sudah lapuk. Demi keamanan, terpaksa saya bongkar karena takut bila ada meterial yang jatuh kemudian menimpa orang pasti jadi permasalahan hukum.

Ketiga rumah itu sudah lama saya bongkar, kurang lebih dua tahun lalu. Kenapa sekarang baru dipersoalkan, lagian Hasmina sering naik di kampung bila ada acara keluarga.

Keempat, soal meteran listrik, kenapa saya dituduh menjual, padahal semua orang tau bahwa meteran listrik itu milik PLN jadi bila tidak bayar rekening listrik tiga atau empat bulan pasti dicabut PLN.

“Kelima, atas dasar apa Hasmina berani mengklaim bahwa rumah itu miliknya?Apakah karena Dia tinggal di rumah itu bersama orang tuanya? Harusnya Dia bersyukur karena telah memberi tumpangan tempat tinggal ”

Saat ditanya Siapa yang pertama kali memunculkan angka Rp40juta sebagai utang Kekek(Nene)Jumalang?
Anak perempuan Kada, Hasni mengatakan, “Yang pertama kali menyebut angka Rp40juta adalah M. Arifin Daeng Nai SE MM. Alasan Daeng Nai sapaan M Arifin karena Dia membayar utang nene sebesar Rp600ribu.

“Soal tanah yang saat ini jadi masalah, perna Daeng Nai ke sini membicarakan
lokasi tersebut, Dia berniat mengambil, tetapi saya tolak karena tanah itu bukan milik nene Jumalang dan bukan juga milik orang tua Daeng Nai,” terang Hasni.

Hasni menegaskan, “Mengapa saya begitu yakin itu milik orang tua, karena waktu rumah itu dipindahkan dari Jl Poros Bonto Jaya ke Lorong Bajiminasa disamping rumah, saya yang masak untuk bapak saat beliau membangun rumah tersebut”

Hasni menambahkan, “Waktu itu Daeng Nai bilang kalau bayar 40juta, maka tanah kembali dan bapa saya lepas dari jeretan hukum.”

Menjawab pertanyaan media ini, Hasni mengatakan, “Waktu itu saya tidak punya pilihan selain mengiyakan angka tersebut, agar bapa saya selamat dari ancaman penjara. Namun waktu itu saya sampaikan untuk lebih dahulu membicarakan dengan suami dan kaka saya Buyung. Mengingat angka 40juta, terlalu amat tinggi dan berat, saya pun diberi kesempatan waktu dua bulan.”

“Selain itu, jika utang nene Jumalang mengapa hanya kami berdua adik kaka yang bayar, Bukankah Kakek Jumalang dan Nenek Sarifah memiliki dua anak yang masih hidup dan sembilan cucu,” imbuh Hasni.

Di tempat yang sama Buyung angkat bicara, “Soal uang 40juta itu, mustahil untuk dipenuhi. olehnya itu jalan keluarnya, adik ipar saya perna membicarakan dengan Daeng Nai agar memberi kesempatan untuk menjual lahan tersebut untuk bisa melunasi utang nene Jumalang, tetapi Daeng Nai tidak memberi kesempatan.”

Buyung menambahkan, “Kalaupun suatu saat kami bisa membayar 40juta sesuai permintaan Daeng Nai, maka harus jelas bagaimana rincian uang tersebut.”

“Mengingat, saya dengar lokasi tersebut konon telah Daeng Nai jual kepada Hasmina sebesar Rp5juta, kemudian Hasmina jual lagi kepada salah seorang sepupu saya yang bernama Ipul, sebesar Rp10juta. Dengan demikian telah terjadi tiga kali transaksi jual beli di atas lahan tersebut,* terang Buyung.

Diketahui, saat adik ipar saya ketemu Daeng Nai, diperlihatkan foto SPPT atasnama M Arifin di atas lahan tersebut,” tutup Buyung.

Terpisah, Hasan Daeng Saro saat ditemui di rumahnya Jl Poros Taroang Jeneponto-Bantaeng, Senin(18/10/2021) membenarkan dirinya telah menjual rumah yang dulunya letak di Jl Poros Bonto Jaya.

Saat ditanya kenapa harus menjual rumah tersebut bukankah waktu itu dihuni kedua mertua?

Sebelum Saro menjawab, sempat menatap mata wartawan Kedai-berita.com dan kemudian tunduk seraya menarik napas panjang seakan menghimpun kekuatan kemudian mengatakan, “Ini menyangkut keluarga saya sendiri, dan membicarakan orang yang telah meninggal.”

Hening sejenak, kemudian Saro melanjutkan pembicaraan, “Terpaksa saya jual karena mertua saya Jumalang banyak utang. Saya kehabisan hanya untuk membayar utang. Waktu itu saya jual ke suami adik ipar dengan harapan kedua mertua tetap tinggal di rumah tersebut.”

“Arifin sudah perna menanyakan ke saya soal rumah tersebut, dan saya katakan rumah dan tanah saya jual ke Kada,” pungkas Saro.

Lurah, Iskandar dan Seklu Abd Rahman

Sementara itu Seklu Kelurahan Bonto Jaya, Kec.Bissappu Bantaeng Abd Rahman saat ditemui di kantornya, Senin(18/10/2021) mengatakan, “Tidak ada nama M Arifin di DHKP(Daftar Himpunan Ketatapan Pajak).

Hal itu dipertegas oleh Lurah Bonto Jaya Iskandar setelah mengambil buku DHKP, ternyata yang tercatat namanya atas lokasi tersebut adalah Haji Samma.

Sementara itu, M Arifin Daeng Nai saat ditemui di Warkop Kanrejawa jl Komplks Topaz Makassar, Selasa(19/10/2021), menjelaskan soal uang Rp40juta.

M Arifin Daeng Nai mengatakan, “Pada tahun 1996 membayar utang nene Jumalang sebesar Rp600ribu.Dan ketika pembayaran atas persetujuan Om Kada dan Dia turut menyaksikan.”

“Dan kemudian pada tahun 2003 saat saya hendak menika, tanta Hasmina kasih pinjam uang sebesar Rp2juta. Setelah dihitung sekian lama maka munculah angka Rp40juta,” ungkap Arifin.

Saat ditanya apakah setelah Hasni dan Buyung membayar uang 40juta masalah selesai, Daeng Nai sapaan karib M Arifin tegas mengatakan, “Selesai masalah,”

Kedai-berita.com kembali menanyakan bagaimana dengan laporan Hasmina, dan katanya pula ada SPPT di lokasi tersebut atasnama M Arifin.

Daeng Nai tegas mengatakan, “Tidak ada masalah dengan laporan Mina, karena memang Dia belum melapor, seraya memperlihatkan foto SPPt tahun 2021 dengan nomor Peta blok 006- 0177.”

“Lagian saya tidak sampai hati memenjarakan Kada, karena beliau itu menderita asma, bagaimana kalau dalam penjara kemudian terjadi sesuatu terhadap Kada maka pasti saya disesali seisi kampung Campagaloe, ujar Daeng Nai

Menjawab pertanyaan media ini soal apakah ada pemikiran untuk berdamai, Lelaki yang keseharian sebagai ASN dan saat ini menjabat sebagai Kasubag Keuangan Damkar Makassar ini, dengan diplomatis menjawab, “Nanti kita akan lihat seperti apa akhirnya karena sudah ada kesepakatan dan kami akan dipanggil lagi tanggal 30 Oktober 2021.”

Terpisah, Hasmina saat ditemui di rumahnya di Kampung Sapabulo Kel.Balang Baru, Kec.Tamalate Makassar, Kamis(21/10/2021) mengatakan, “Saya melapor Kada, karena jengkel, Dia membongkar rumah tanpa menyampaikan kepada saya.”

Ketika ditanya kebenaran info soal lokasi rumah tersebut telah dibeli dari Arifin, Hasmina membenarkan informasi tersebut “Cuma saja baru menyerahkan uang sebesar Rp2juta.kepada Daeng Nai,” imbuh Hasmina.

Menjawab pertanyaan media ini, Hasmina menegaskan, “Saya yang tinggal di rumah itu makanya saya berhak, kemudian saya baru mengetahui rumah itu dibingkar saat meninggal ibu saya, Lalu bagaimana dengan Daeng Saro? bukankah rumah itu Kada beli dari Saro? Hasmina diam seraya menunduk (M Said Welikin)

 

 

 

 

  • Bagikan