Menu

Mode Gelap
Demonstran Blokade Jalan Urip Hingga Macet Total KPK Geledah Kantor Dinas PUTR Sulsel? PPCD Siap Gelar Pendaftaran Bakal Calon Direktur PNUP Oknum Polri Jadi Algojo Habisi Nyawa Najamuddin Sewang Polsek Bontonompo Kesampingkan Perma 2 Tahun 2012? Kanitres Bungkam

News · 7 Jun 2021 11:28 WITA

Pengeroyokan di Ruangan Bamus Terkuak, Keterangan JN Beda dengan BS


 Pengeroyokan di Ruangan Bamus Terkuak, Keterangan JN Beda dengan BS Perbesar

Perkelahian di Ruangan Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Takalar pada hari Senin tanggal 3 Mei 2021, ketika menyeruak ke ruang publik, hingga saat ini masih jadi bahan obrolan di grup-grup medsos.

Kejadian itu menimbulkan ragam penafsiran, asumsi, bahkan berbagai spekulasi. Dan hal itu tidak mengagetkan tentunya, karena, tidak ada penjelasan dari DPRD Takalar tentang hal ihwal perkelahian tersebut. Apalagi kini para pihak telah saling melapor.

Dari ragam tafsir itu, beberapa pertanyaan pun muncul, Pertama siapa yang memulai, perkelahian dua lawan satu antara Bakri Sewang dan Johan Nojeng melawan Andi Noor Zaelan.

Kedua, Apakah benar ada ucapan-ucapan yang berbau rasisme terucap dari mulut anggota dewan yang terhormat sebagaimana diobrolkan di medsos ?
Dan bila benar terucap kata-kata yang berbau rasisme apa sangsi bagi anggota dewan tersebut?

Ketiga, Apakah benar pemicu perkelahian ini akibat sebagaian peserta rapat kecawa dengan yang memimpin rapat? Sebagaimana narasi yang terbangun pada awal-awal kejadian ini.

Pertanyaan berikutnya, Apakah perkelahian di Ruang Bamus DPRD Takalar, Senin tanggal 3 Mei 2021 itu, karena memperjuangkan kepentingan rakyat atau mengamankan kepentingan penguasa? Karena sudah jadi rahasia publik bahwa para anggota DPRD Takalar terpolarisasi jadi dua kelompok.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas Wartawan Kedai-berita.com berupaya menyelisik permasalahan ini.

Andi Noor Zaelan, waktu ditemui beberapa waktu lalu di depan ruang tahanan Polres Takalar, mengatakan, “Saya korban pengeroyokan, dan mereka yang duluan memulai.”

Ketika disinggung soal isu rasisme yang sempat muncul di forum diskusi Takalar. Andi Ellang sapaan karib Andi Noor Zaelan mengatakan, “Soal kata-kata rasisme itu, sudah saya beberkan dalam Berita Acara Pemeriksaan(BAP).

Menjawab pertanyaan wartawan Kedai-berita.com, Andi Ellang mengatakan, “Johan Nojeng datangi saya seraya menunjuk-nunjuk, dan memukul kemudian dengan bahasa Makassar mengucapkan kata-kata rasisme Kimai kampongnu, apatong nupattoang ka tau battu-battu jako antu(Di mana kampungmu, apa juga yang kau andalkan, kau itu cuma orang pendatang, red).

“Saya anggota dewan yang dipilih secara demokratis, dan konstuwen saya tidak mempersoalkan dari mana asal usul, imbuhnya.

Baca Juga :  Beda Angka Antara PLN dan DPRD Takalar

Sementara itu, Bakri Sewang(BS) yang dikonfirmasi melalui telpon Selasa(4/5/2021), membantah informasi tentang dirinya yang memulai permasalahan serta adanya pengeroyokan. Informasi itu tidak masuk akal karena faktanya, saya dan Johan Nojeng yang luka-luka, sementara Dia tidak.”

Menurut Bakri Sewang, “Awal kejadian, Andi Ellang berdiri, saya maju untuk merelai, tetapi karena Dia mau pukul saya, jelas saya mundur mengambil posisi ancang-ancang.”

Ketika ditanya di mana posisi Johan Nojeng. Bakri Sewang mengatakan, “Saat Johan Nojeng memukul meja, Andi Ellang maju dan mengambil stik dan memukul makanya Nojeng lukanya parah.”

Menjawab pertanyaan wartawan Kedai-berita.com, Bakri Sewang mengatakan, “Kalau adanya luka memar akibat pemukulan benda tumpul berupa meja atau kursi, saya kurang tau hal itu, karena kondisi sangat kacau.”

“Yang pasti saya kurang tau, karena saat kejadian saya kesetanan. Saya membabi-buta, loncat ke sana kemari memisahkan orang,” terang, Bakri Sewang.

Ketika ditanya, antara siapa dengan siapa sehingga kita harus memisahkan? Bakri Sewang mengatakan, “Maksudnya begini, pemicu dari semuanya ini adalah Ketua DPRD Takalar M Darwis Sijaya.yang memaksakan kehendak. Mengapa saya katakan demikian, karena Ketua DPRD ingin membatalkan hasil rapat pembentukan komposisi Panitia Khusus Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Tahun 2020.”

Lanjut Bakri Sewang mengatakan, “Perlu diketahui hasil rapat yang dilaksanakan pada hari Jumat,(30/4/2021), telah diputuskan, Ketua Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban(LKPJ), Muchtar Maluddin dan saya sebagai wakil ketua.”

Abd Haris Nasa saat ditemui di kediamannya di kelurahan Pattene Takalar, Sabtu(8/5/2021), mengatakan, “Satu kesukuran, saya berada saat kejadian, karena saya memisahkan. Kalau tidak, kondisi Andi Ellang bisa fatal, karena diduai(dikeroyok).”

“Setelah saya bujuk dan mengantarJohan Nojeng untuk kembali ke tempat, lalu menuju ke Bakri Sewang untuk menahan kursi kedua yang ingin dipukulkan ke Andi Ellang.
Saat itu bukan saya sendiri menghalangi Bakri Sewang, ada juga Haji Achmad Sija,” beber Haji Nasa sapaan karib Abd Haris Nasa.

Haji Nasa yang saat ini menjabat Ketua Fraksi Bintang Kebangkitan Persatuan DPRD Takalar ini, “Saya mendengar kata-kata rasisme itu dengan baik kerana diucapkan dengan bahasa Makassar.”

Baca Juga :  Kisruh Perkelahian Orang-Orang Terhormat di Negeri Petarung

“Hal itu, yang mengherankan saya, karena kalau kita mau jujur Andi Ellang itu lebih Takalar dari kebanyakan kita ini yang kebetulan lahir di Takalar. Fakta yang tak bisa terbentakan adalah, Pemilu lalu, Andi Ellang lebih banyak suaranya dari Johan Nojeng,” ungkap Haji Nasa.

Ketika ditanya apakah ada kepentingan politik dalam peristiwa insiden Bamus? Politisi Partai Kebangkitan Bangsa yang dua periode jadi anggota DPRD ini dengan sedikit tersenyum mengatakan, “Masyarakat kita ini pintar-pintar sehingga mereka bisa menilai. Kalau saya hanya ingin sampaikan begini, saya perna sakit kurang lebih dua Minggu, namun Syaamsari, jangankan menjenguk, bertanya pun tidak, padahal Pilkada lalu saya tim SK-HD.”

“Sementara saat Johan Nojeng dibawah ke rumah sakit, dalam hitungan menit Syamsari sudah ada di Rumah sakit,” ucapnya.

Terpisah, Johan Nojeng, melalui telpon, Minggu(9/5/2021), membantah bahwa dirinya lebih dahulu mendatangi Andi Ellang seraya menunjuk-nunjuk dan memukul. Kemudian soal kata-kata rasisme, saya tidak mendengar apalagi mengucapkannya.

Politisi partai Bulan-Bintang ini mengatakan, *Saat itu saya membawa buku, kacamata dan Hp, karena ingin pulang lewat pintu yang dekat dengan meja pimpinan. Andi Ellang mengatai saya t*i la*o, sontak saya katakan apa? Seraya mendekat ke Andi Ellang, tetapi Dia langsung mencabut dobel stik dan memukul.”

Daeng Nojeng sapaan karib Johan Nojeng menambahkan, “Kalau saya berniat memukul kenapa saya bawa buku, kacamata dan Hp. Lagian saya bisa memukul, mendekat saja tidak bisa karena terhalang dengan dobel stik.”

Ketika ditanya bagiamana dengan pengakuan Haji Nasa bahwa sempat memisahkan, Johan Nojeng menjawab singkat, “Oh, itu sebelumnya.”

Ketua DPRD Takalar Muh. Darwis Sijaya saat ditemui di Rumanya, Jl Sawi Takalar, beberapa waktu lalu mengatakan, “Setiap keputusan tidak mungkin menyenangkan semua pihak, termasuk keputusan Andi Noor Zaelan sebagai wakil ketua Pansus menggantikan Bakri Sewang.”

“Dengan komposisi Muchtar Maluddin sebagai Ketua Pansus itu sebenarnya masih menguntungkan pihak sebelah,” ucap Politisi partai Keadilan Sejatera ini.

Baca Juga :  DPRD Takalar Beri Deadline Sepekan Revisi SBU

“Mengenai kata-kata rasisme, saya tidak mendengar secara itu, hanya pertanyan dari Andi Noor Zaelan yaitu ‘kau tau ji rumahku to,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Komisi I DPRD Takalar Nurddin HS, ketika ditemui di kediamannya desa Palalakang Galesong, Selasa(11/5/2021), mengatakan, “Hingga saat ini saya tidak mengerti mengapa hanya soal komposisi ketua dan sekretaris Pansus saja, harus timbul perkelahian.”

Ketika ditanya soal kata-kata rasisme, Ketua DPC P3 Kab.Takalar ini mengatakan, “Saya tidak mendengar secara utuh, hanya mendengar, jawaban Andi Ellang yang bernada tanya, Kau tau ji rumahku to,”

Ketua Komisi III DPRD Takalar, Achmad Sija saat ditemui di rumahnya Jl Poros Galesong Utara Senin(24/5/2021) malam, mengatakan,
“Apa yang disampaikan Haji Nasa benar, karena saya bersama-sama berusaha menahan kursi yang hendak dipergunakan Bakri Sewang memukul Andi Ellang.”

Lelaki yang karib disapa Haji Sija dan sudah beberapa periode menjadi anggota dewan ini, berharap agar semua pihak berbesar hati untuk berdamai karena pasti ada hikma di balik peristiwa ini.

Sementara itu salah satu Pejabat di Pemkab Takalar yang secara kebetulan ditemui beberapa waktu lalu di depan BNI Takalar, punya harapan yang sama dengan Haji Sija yakni adanya perdamaian.

Bila tidak terjadi perdamaian maka ketiga-tiganya bakal jadi tersangka dan kemudian jadi terdakwa. Kalau itu terjadi pasti menyita waktu, menguras tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Anggota DPRD itu adalah orang-orang pintar dan terhormat sehingga tidak pantas kalau saya menesehati. Sekalipun demikian sebagai sesama anak bangsa, saya cuma ingatkan bahwa(Negara Kesatuan Republik Indoneaia (NKRI) itu harga mati.

Sehingga setiap ASN, apalagi DPRD termasuk Komisioner KPU punya wawasan kebangsaan yang baik,sehingga tidak bakal berbicara rasisme(SARA) di Negeri tercinta ini.

Pada insiden Bamus kita semua berharap tidak terbukti ucapan rasisme, bila terbukti maka hukamannya Pergantian Antar Waktu (PAW) menanti. Sebelum kami berpisah, sang pejabat pun meminta agar namanya tak disebutkan.(M. Said Welikin)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Sepak Bola Berduka, Kapolda Sulteng Gelar Salat Ghoib

3 Oktober 2022 - 17:27 WITA

Damkar Suplay Tabung Apar di 15 Kecamatan

1 Oktober 2022 - 18:03 WITA

Kerjasama PU, Perumda Pasar Renovasi Pasar Terong

30 September 2022 - 16:10 WITA

Marak Kebakaran, Pemkot Makassar Hadirkan Damtor di Kelurahan

28 September 2022 - 19:26 WITA

Menteri Yasonna Menyapa Pelajar Makassar

28 September 2022 - 17:21 WITA

Dishub Fokuskan 15 Titik Rawan Macet di Makassar

26 September 2022 - 17:02 WITA

Trending di News
error: Hai! Pengunjung Kedai-berita.com