Menu

Mode Gelap
KPK Geledah Kantor Dinas PUTR Sulsel? PPCD Siap Gelar Pendaftaran Bakal Calon Direktur PNUP Oknum Polri Jadi Algojo Habisi Nyawa Najamuddin Sewang Polsek Bontonompo Kesampingkan Perma 2 Tahun 2012? Kanitres Bungkam Babak Baru Kasus Dugaan Korupsi Proyek Infrastruktur Wisata Toraja Rp40 M

Opini · 20 Mei 2021 10:36 WITA

Issu Rasis Aib Bagi Pewaris Tanah Para Petarung


 Issu Rasis Aib Bagi Pewaris Tanah Para Petarung Perbesar

Di Tanah Para Petarung sejati ini, Harkat dan Martabat Tanah Tumpah Darah dijunjung tinggi, ” siri’ Na Pacce” adalah pilar utamanya, sehingga di manapun orang-orang Polongbangkeng, orang-orang Galesong, orang-orang Sanrobone, dan orang-orang Laikang mereka tidak merasa dibatasi oleh sekat Negeri apalagi Rasis, karena sikap dan prilaku yang dilandasi oleh siri’ na pacce akan tegak berdiri di semua tempat dan di setiap era.

Siri’ adalah landasan yang membangun jiwa yang merasa malu jika menyimpang dari norma agama dan adat istiadat. Sehingga penghargaan terhadap harkat dan martabat orang lain akan dihargai setinggi-tingginya tanpa memandang dari mana dia berasal dan kedudukannya.

Dan landasan ini pula yang membangun jiwa ksatria dan jiwa kompotisi yang kuat serta menjauhkan dirinya dari karakter pecundang, penjilat, asal bapak senang dan seterusnya.

Sikap inilah yang telah ditunjukkan dalam sejarah perjalanan peradaban orang-orang Takalar di setiap era dan sejarah telah mencatat bahwa tidak ada sekat negeri bagi orang-orang Takalar untuk mengabdi dan berjuang demi tegaknya kebenaran dan keadilan.

Baginya di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Siri’ menjadi landasan yang membangun jiwa ksatria orang-orang, Takalar dimasa lalu. Baginya hasil dari sebuah pertarungan tidak menjadi penting, karena yang terpenting adalah alasan untuk bertarung, karena dia ingin ikhlas menerima hasil dr sebuah pertarungan yang maksimal, sekalipun itu berujung pada kekalahan.

Sejarah mencatat begitu banyak ksatria dari tanah petarung yang hidupnya harus berakhir dipembuangan atau berujung pada kematian.

Selanjutnya Pacce menjadi landasan yang membangun jiwa orang-orang Takalar yang memiliki kepedulian yang tinggi bagi sesama, tanpa melihat dari suku mana dia berasal. Sehingga merekapun diterima keberadaannya di manapun dia berada.

Dari uraian singkat di atas memberi gambaran kepada kita bahwa kalau Rasisme dikumandangkan di negeri para petarung ini. Rasanya mustahil dan kalau ini terjadi itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengenal sejarah masa lalu peradaban negrinya.

Selanjutnya penulis akan memaparkan fakta sejarah agar apa yg diuraikan di atas tidak dimaknai pembaca sebagai pikiran yang lahir dari rasa bangga semata dari penulis terhadap tanah airnya secara berlebihan.

Sejarah telah menulis dengan tinta emas tentang kiprah seorang anak negri yang asal usul silsilahnya dari negri para petarung di kancah pergolakan internasional beliau adalah Syeh Yusuf yang dikenal dengan nama Tuanta Salamaka.

Tidak banyak yang mengrtahui dari mana asal usul bapaknya, apakah memang sengaja disembunyikan oleh sejarah wallahu alam bissawab. Tetapi yang pasti dan tidak bisa dibantah bahwa bapaknya datang dari tanah Ko’mara yang dikenal dengan nama Tu Toaya Ri Ko’mara

Syeh Yusuf telah melintasi jagad raya ini tanpa menghiraukan sekat- sekat negri, bukan mencari popularitas apalagi kedudukan duniawi, tetapi mereka menjalani dan mewujudkan alasan yang diyakininya akan mengubah peradaban manusia menjadi lebih baik.

Dan alasan itulah yang menuntun takdirnya menuju langkah yang terakhir dalam hidupnya di pengasingan di ujung dunia, yaitu negeri Afrika Selatan di wilayah paling selatan.

Nelson Mandela, penguasa Afrika Selatan yang paling tersohor telah memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Syeh Yusuf sebagai Pahlawan, dan mengakuinya dengan jujur bahwa beliaulah pejuang anti rasis pertama di Afrika.

Keturunan Tuanta Salamaka di Kerajaan Gowa mendiami wilayah selatan ( sekarang Kab. Takalar). Jadi kalau issu rasisme berkumandang di Kab. Takalar itu sama saja penghianatan terhadap perjuangan leluhurnya.

Selanjutnya Hang Tuah yang keturunan Kare Loe ri Bajeng yang kesetian dan pengabdiannya tanpa batas pada negeri yang telah membesarkannya, yaitu negeri Malaka yang notabene bukan tanah tumpah darah para leluhurnya. Tetapi Siri’ na Pacce telah menuntunnya untuk tidak membatasi dirinya mengabdi dengan tulus demi tegaknya kebenaran dan keadilan dimanapun dia berada.

Ketika mereka terseret arus pertarungan politik di tanah Malaka, Hang Tuah berhasil disingkirkan oleh kelompok yang tidak menginginkannya dan harus menerima kenyataan hidup dalam pembuangan.

Setelah mereka di asingkan negri Malaka berada di ujung kehancuran, barulah penguasa menyadari kekeliruannya menyingkirkan Sang pengabdi yang setia pada negri Malaka dan untuk menyelamatkan negri Malaka dari kehancuran tanggung jawab itu dibebankan di pundak Hang Tuah.

Disinilah kesetiannya di uji dan tanpa ragu mereka menyerahkan segalanya untuk menyelamatkan negri yang telah membesarkannya.

Pengabdiannya yang tulus telah menyelamatkan Negri Malaka dari kehancuran, maka sejarah Malaka mencatat kesetiaan leluhur orang-orang Takalar dengan tinta emas.

Kalau kemudian pengabdian yang tulus tidak dihargai di negri para petarung hanya karena mereka tidak lahir dari rahimnya, sungguh perbuatan yang telah mengkerdilkan nilai sejarah yang telah ditorehkan oleh leluhurnya.

Selanjutnya adalah Karaeng Bontomarannu yang juga berasal dari negri petarung. Beliau yang dengan tegas menunjukkan kepada dunia perlawanannya terhadap pihak yang merendahkan harkat dan martabat bangsa lain.

Ketika kaum penjajah merendahkan harkat dan martabat bangsanya karena harus menandatangani perjanjian yang membatasi kedaulatan negrinya, yang dikenal dengan perjanjian ” BONGAYA” mereka dengan tegas menolaknya.

Dan menawarkan hidupnya untuk dipersembahkan kepada tanah airnya agar Raja menolak perjanjian itu. Ketika Raja menolak penawarannya, maka mereka mengambil keputusan yang sangat berat yaitu mengakhiri pengabdiannya pada negri yang dicintainya. Dan menanggalkan seluruh atribut kebesaran yang disandangnya sebagai Laksamana yang tersohor dan inilah prinsip hidup yang dia tancapkan pada negrinya yang dikenal dengan TODDO PULI, sebelum jejak langkah terakhirnya hilang.

Karaeng Bontomarannu melangkah tanpa ragu menuju negri yang tertindas untuk menawarkan hidup dan pengabdiannya tanpa syarat demi tegaknya keadilan. Mereka hanya minta diberi tempat untuk berdiri dengan kepala tegak agar mereka terlihat dengan jelas oleh anak cucunya kelak ketika saman sudah melintas.

Bahwa kepala tidak boleh tertunduk dihadapan kekuasaan yang mempertontonkan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan.

Pewarisku kelak akan terlihat dengan jelas yaitu mereka yang mengikuti jejak langkahku. Dan berpegang teguh pada prinsip yang telah kutancapkan pada negri yang kuwariskan.

Jika kelak di negri para petarung ada kepala tertunduk dihadapan kekuasaan yang tidak berlaku adil dan sewenang-wenang, maka kupastikan mereka itu bukanlah dari kaumku.

Ketika kedaulatan NKRI dironrong oleh kaum imperialisme, para to Barani di negri para petarung menunjukkan bakti dan kesetiaannya pada tanah tumpah darahnya dan adalah Ranggong Daeng Romo’ dan kelompoknya spontan membentuk Laskar perlawanan untuk menjawab tindakan imperialisme yang sewenang-wenang terhadap rakyat yang dikenal dengan nama Laskar Lipan Bajeng yang dipimpin oleh Ramggong Daeng Romo’.

Atas keteguhan dan kesetiaannya pada negri yang dibelanya, Ranggong Daeng Romo kemudian didaulat memimpin 19 kelaskaran yang menyebar di Sulawesi, untuk kepentingan bangsa dan negara perjuangan.

Ranggong Daeng Romo’ sama sekali tidak mempedulikan asal-usul para anggota laskar karena yang ada adalah tujuan yang sama yaitu menjaga dan mempertahankan kedaulatan NKRI. Sehingga yang ada adalah kesetian mengabdi pada kepentingan bangsa dan negara.

Sehingga kalau di negri para petarung masih ada orang yang mempersoalkan asal usul seseorang dalam perjuangan, maka tujuan perjuangan orang tersebut perlu dipertanyakan.

Catatan sejarah yang diungkap oleh penulis hanya sebahagian kecil dari peristiwa perjalanan peradaban di tanah para petarung pada setiap era. Artinya bakti para petarung dari masa ke masa pada tanah tumpah darah tidak lagi diragukan.

Jangan sampai kesetiaan orang-orang Takalar pada negrinya hari ini ” Diragukan” karena sikap dan prilaku kita yang tidak lagi menghiraukan jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan oleh para leluhur.

Kalau boleh penulis sarankan, utamanya kepada para yang merasa pewaris negri para petarung, terkhusus para tokoh pilihan rakyat yang sedang berjuang untuk kepentingan rakyat di DPRD kab. Takalar.

Untuk meluangkan waktunya mempelajari sejarah perjalanan dan kiprah para leluhur orang-orang Takalar di masa lampau dari masa ke masa sebagai salah satu rujukan dalam mengemban amanah perjuangan rakyat, dan demi terjaganya sikap dan prilaku yang menjunjung tinggi kearifan lokal ” SIPAKATAU SI PAKALABBIRI” yang tidak peduli asal daerah dan dari rumpun mana seseorang berasal, karena bagi orang Takalar kita adalah bersaudara yang dipersatukan oleh Siri’ na Pacce”

Takalar, 5 Syawal 1442 Hijriah
Alimuddin Daeng Namba

Artikel ini telah dibaca 36 kali

Baca Lainnya

Polemik Pembatalan SK Kepala Desa Bareng Oleh Camat Buyasuri

23 Juni 2022 - 17:56 WITA

Putusan Hakim, Arti Yurisprudensi dan Daya Berlakunya

19 Juli 2021 - 12:23 WITA

OPINI: Investasi Tambang dan Koperasi di Mata Kebijakan Negara

12 Juli 2021 - 08:07 WITA

Putusan Hakim dan Memahami Eksistensi Living Law

5 Juli 2021 - 12:22 WITA

OPINI: Paradoks Politik Hukum Agraria Indonesia

24 Juni 2021 - 20:49 WITA

22 Juni Sebagai Momentum Refleksi Piagam Jakarta

22 Juni 2021 - 11:52 WITA

Trending di Opini
error: Hai! Pengunjung Kedai-berita.com