Menu

Mode Gelap
Demonstran Blokade Jalan Urip Hingga Macet Total KPK Geledah Kantor Dinas PUTR Sulsel? PPCD Siap Gelar Pendaftaran Bakal Calon Direktur PNUP Oknum Polri Jadi Algojo Habisi Nyawa Najamuddin Sewang Polsek Bontonompo Kesampingkan Perma 2 Tahun 2012? Kanitres Bungkam

Opini · 23 Jun 2020 11:00 WITA

OPINI: Kejahatan dan Penjahat (telaah kriminologi menyikapi aksi kekerasan fisik)


 Akademisi Hukum UKi Paulus Makassar, Jermias Rarsina Perbesar

Akademisi Hukum UKi Paulus Makassar, Jermias Rarsina

Oleh: Jermias Rarsina (Dosen Fakultas Hukum UKI Paulus Makassar)

Kriminologi adalah ilmu yang mengurai mengenai sebab musabab orang melakukan kejahatan yang di dalamnya terkait dengan kelakuan buruk.

Dalam berbagai literatur banyak para ahli yang membuat definisi tentang krimonologi atau ilmu kejahatan.

Yang jelasnya unsur esensial dari ilmu kriminologi sangat luas yang didalamnya meliputi gejala sosial, budaya, sosiologi bahkan geneologis yang mendorong orang memiliki prilaku buruk atau perbuatan tercela, sehingga melakukan kejahatan.

Menarik untuk kita ketahui dan memahami ilmu kejahatan secara teoritis, maka mungkin penulis dapat mengantar kita dengan salah satu teori dari ahli kriminal (kriminolog) yang bernama WOOD.

Dia memberi definisi kriminologi adalah keseluruhan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan teori atau pengalaman yang bertalian dengan perbuatan jahat dan penjahat, termasuk di dalamnya reaksi dari masyarakat terhadap perbuatan jahat dan para penjahat.

Pandangan kriminolog Wood menggambarkan bahwa perbuatan jahat
tidak saja kita peroleh secara teori, tetapi juga pada faktor pengalaman dan bersifat menjadi reaktif dari masyarakat dalam penilaian terhadap perbuatan jahat dan para penjahatnya.

Baca Juga :  Korupsi Kapal Latih, PPK Pokja dan Penyedia Barang Jadi Tersangka. TP4D?

Kejahatan dalam ilmu kriminal (kriminologi) tidak terlepas dengan aplikasi ilmu hukum pidana.

Dalam perspektif hukum pidana kelakuan buruk atau perbuatan jahat diartikan sebagai perbuatan pidana atau delik (arti universal). Yang pemerintah Indonesia menggunakannya dalam istilah KUHP disebut tindak pidana.

Kejahatan dari sisi rumusan pidana sangat luas baik yang telah diatur dalam KUH Pidana maupun ketentuan lainnya diluar KUH Pidana.

Salah satu contoh dari bentuk atau ciri tindak pidana adalah kejahatan kekerasan fisik (violent crime) seperti penganiayaan bahkan sampai pada pembunuhan dan lain sebagainya yang bersifat adanya benturan fisik.

Dalam perkembangan ilmu kejahatan secara universal, kejahatan kekerasan fisik (violent crime) menjadi momok atau hal menakutkan terutama di kota-kota besar. Hal itu bahkan telah menjadi sebuah profesi bagi orang pribadi atau kelompok tertentu untuk digunakan sebagai tenaga jasa tertentu.

Kita bisa obyektif melihat dalam pengalaman hidup kriminalitas di ibu kota Jakarta atau mungkin di beberapa kota besar lainnya sekaitan dengan tenaga jasa tagihan (debt colector), penjagaan tanah sengketa, pengawalan dan mungkin konflik sosial lainnya yang terkait dengan persoalan beking-membeking.

Baca Juga :  OPINI: Sertifikat Elektronik Paradigma Baru Dalam Pendaftaran Hak Atas Tanah

Kesemuanya itu telah menjadi tantangan sosial terbesar bagi masyarakat luas dan pemerintah di Indonesia dalam menghadapi serta menyikapinya.

Kasus kekerasan fisik yang dalam skala besar dengan menggunakan kelompok atau jumlah massa yang banyak dalam perkembangannya mendapat sorotan publik yang menajam, karena dianggap sangat mengganggu rasa ketertiban, ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

Contoh belakangan ini yang kembali lagi membuat gaduh penilaian masyarakat luas, terutama di kota Jakarta tentang kasus kekerasan fisik dan pembunuhan yang dilakukan oleh John Key dan anak buahnya dalam aksi penyerangan terhadap Nus Key dan kelompoknya yang sekarang ini sedang santer di masa pandemi Covid19.

Terlepas dari penilaian berbagai pihak akan kejadian tersebut dan berjalan proses hukumnya, namun ilmu kejahatan (kriminologi) bisa mengantar daya berpikir kita sebagai manusia normal secara rasional bahwa berangkat dari pengalaman sosok Jhon Key pernah mendapat vonis pemidanaan bersalah kasus pembunuhan dalam kasus hukum BOS PT. SANEX dan beberapa aksi benturan fisik kelompoknya dengan kelompok lainnya di kota Jakarta.

Baca Juga :  Kasus Kota Idaman Gowa, Akademisi Nilai Polisi Abaikan Kepentingan Hukum Negara

Kita telah diberi gambaran oleh ilmu kejahatan mengenai kekerasan fisik merupakan prilaku buruk atau perbuatan jahat. Di sisi lain pula, di samping arti kejahatan itu sendiri juga kriminologi memberi arti mengenai penjahat.

Penjahat dalam krimonilogi secara universal diartikan sebagai pelaku atau orang yang berbuat jahat. Sehingga dalam kriminologi berbuat jahat dan penjahat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Apalagi jika perbuatan jahat itu dilakukan berulang-ulang, maka semakin melekat esensi keduanya.

Kita tinggal mengamati saja kehidupan di sekeliling lingkungan hidup kita tentang kekerasan fisik, apakah kejahatan dan penjahat bercirikan seperti itu ada disekitar kita?

Kita perlu mewaspadainya agar kejahatan tersebut tidak menimpah diri kita, seperti yang sedang dialami orang lain sebagai kasus violent crime (kekerasan fisik) hingga bermuara pada pembunuhan (kematian).

Artikel ini telah dibaca 188 kali

Baca Lainnya

Polemik Pembatalan SK Kepala Desa Bareng Oleh Camat Buyasuri

23 Juni 2022 - 17:56 WITA

Putusan Hakim, Arti Yurisprudensi dan Daya Berlakunya

19 Juli 2021 - 12:23 WITA

OPINI: Investasi Tambang dan Koperasi di Mata Kebijakan Negara

12 Juli 2021 - 08:07 WITA

Putusan Hakim dan Memahami Eksistensi Living Law

5 Juli 2021 - 12:22 WITA

OPINI: Paradoks Politik Hukum Agraria Indonesia

24 Juni 2021 - 20:49 WITA

22 Juni Sebagai Momentum Refleksi Piagam Jakarta

22 Juni 2021 - 11:52 WITA

Trending di Opini
error: Hai! Pengunjung Kedai-berita.com