Cerita Nelayan Mangindara Yang Dikenal Sebagai Pemburu Telur Ikan Terbang

  • Whatsapp

Kedai-Berita.com, Takalar– Kehidupan akan terus berjalan, begitu juga kehidupan anak cucu Adam. Ada yang datang dan ada pula yang pergi, begitulah warna warni kehidupan.

Minggu pagi 24 Juni 2018, Kedai-Berita.com menerima telepon dari Kepala Desa Mangindara, Mansyur Tompo diajak untuk menyaksikan aktifitas pagi nelayan Patorani yang akan bongkar muat hasil tangkapannya dari laut lepas berupa ikan dan telur ikan.

Pagi itu, laut nampak tenang seakan memberi kesempatan kepada para istri nelayan dan anak-anaknya yang akan melepas suami dan bapaknya yang akan pergi melaut dengan suasana haru disertai doa yang tulus agar selama di laut terhindar dari marabahaya dan tentunya membawa pulang rezeki yang banyak.

Tapi sebaliknya, para nelayan yang baru pulang melaut hampir sebulan lamanya disambut istri dan anaknya dengan kegembiraan. Karena selain pulang dengan selamat, sudah barang tentu membawa reski hasil tangkapan ikan maupun telur ikan.

  Badko HMI SulselBar Desak Keuangan Jamkrida Sulsel Diaudit

Memang sangat penting doa dari istri dan anak, karena para nelayan dalam mencari nafkah di laut lepas, bukanlah hal yang mudah. Setiap saat mereka harus menantang badai dan gelombang laut yang tinggi.

Kepala Desa Mangindara, Mansyur Tompo

Kepala Desa Mangindara, Kabupaten Takalar, Sulsel, Mansyur Tompo menceritakan hasil tangkapan telur ikan para nelayan Patorani selama melaut. Dimana setiap kapal yang digunakan melaut penuh dengan telur ikan berkisar 250 Kg.

“Sesuai catatan yang ada, hasil tangkapan telur ikan di Desa Mangindara tahun 2017 lalu mencapai 20 ton dan tahun 2018 ini diperkirakan lebih dari 40 ton. Karena baru ret pertama pada musim telur ikan terbang tahun ini hasil tangkapan kisaran 20 ton, apalagi lebih dari 100 kapal pencari ikan telur ikan,” kata Tompo.

Telur ikan terbang hasil tangkapan nelayan Patorani, Desa Mangindara, Kabupaten Takalar, Sulsel

Musim bertelur ikan terbang atau dikenal masyarakat Sulsel dengan nama ikan tuing-tuing biasanya berlangsung dari bulan April hingga awal bulan September. Dengan demikian asumsi 40 ton tahun ini akan tercapai, karena masih ada waktu tersisa sekitar dua bulan lagi untuk dimanfaatkan para nelayan Patorani untuk melaut mencari telur ikan.

  Cara Pemancing Makassar Meriahkan HUT RI Ke 72

“Peralatan yang digunakan para nelayan Patorani sifatnya sangat tradisional yang merupakan warisan leluhur nenek moyang yang dikenal oleh masyarakat bernama bubu atau sejenis perangkap yang disimpan ditengah laut,” terang Tompo.

Peralatan Yang Digunakan Ramah Lingkungan

Hasil tangkapan telur ikan nelayan Patorani kemudian dijual ke para penampung. Dimana telur ikan yang belum dibersihkan alias dipisahkan dengan cara diparut dibanderol seharga Rp 350.000 per kilogram. Sebaliknya jika sudah melalui proses pembersihan, harga per kilogram telur ikan dinilai lebih mahal lagi.

Mata pencaharian masyarakat Patorani Desa Mangindara yang jumlahnya mencapai 250 jiwa itu, tak hanya fokus melaut, tetapi juga bertani dengan memanfaatkan sebagian lahan pertanian yang ada dari luas Desa Mangindara 1767 Km2.

  Cerita Tentang Belut Bantu Nenek Moyang Dari Kejaran Tentara Belanda

“Ada sekitar 50,10 Ha sawah produktif di Desa Mangindara ini,” terang Tompo.

Sebagai pemimpin Desa tersebut, ia tak henti-hentinya terus memberikan dukungan kepada masyarakatnya agar dapat memperbaiki kehidupannya ke arah yang lebih sejahtera.

Salah satunya kepada warganya yang berprofesi nelayan agar dalam mengambil hasil laut, jangan pernah meninggalkan cacat pada laut.

“Sehingga kita bisa lihat hingga saat ini, alat tangkap yang digunakan para nelayan disini semua ramah lingkungan sesuai harapan kita semua,” ucap Tompo.

Pada kesempatan yang sama, ia juga berharap kepada Pemerintah untuk memberikan bantuan membangun pemecah ombak itu di wilayahnya jika melihat kondisi pantai Desa Mangindara yang sudah mengalami abrasi.

“Masyarakat disini sangat berharap ada tambahan satu unit pemecah ombak demi mengantisipasi dampak abrasi yang sudah meluas di Desa Mangindara ini,” Tompo menandaskan. (Said/Hakim)

Pos terkait