Menu

Mode Gelap
KPK Geledah Kantor Dinas PUTR Sulsel? PPCD Siap Gelar Pendaftaran Bakal Calon Direktur PNUP Oknum Polri Jadi Algojo Habisi Nyawa Najamuddin Sewang Polsek Bontonompo Kesampingkan Perma 2 Tahun 2012? Kanitres Bungkam Babak Baru Kasus Dugaan Korupsi Proyek Infrastruktur Wisata Toraja Rp40 M

Hukum & Kriminal · 23 Mei 2018 04:31 WITA

Misteri Surat Rincik Kohir 455 C1 di Atas Lahan Negara di Barombong


 Misteri Surat Rincik Kohir 455 C1 di Atas Lahan Negara di Barombong Perbesar

Kedai-Berita.com, Makassar– Beberapa fakta baru dalam kasus dugaan penjualan lahan negara seluas 6 Ha lebih di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar perlahan terkuak.

Salah satunya fakta tentang keberadaan surat rincik Persil 13B DVV III Kohir 455 C1 yang dijadikan celah untuk mengelabui status lahan negara yang melekat pada lahan seluas 6 Ha di Kelurahan Barombong.

Dari data yang dihimpun Kedai-Berita.com, ada tiga nama yang mengklaim sebagai pemilik lahan berdasarkan surat rincik Persil 13B DVV III Kohir 455 C1 tersebut.

Selain diklaim oleh Andi Mariam, juga ada nama Maputtuang dan Pincara yang mengklaim berdasarkan surat rincik tersebut. Namun belakangan, Camat Tamalate, Hasan Sulaiman dalam penjelasan tertulisnya kepada Syamsu Arief, tepatnya tertanggal 22 Maret 2017, dengan tegas menyatakan bahwa luas lahan rincik Persil 13B DVV III Kohir 455 C1 yang tercatat dalam buku C dan buku F milik Kecamatan Tamalate, hanya seluas 0,44 Ha. Sedangkan luas lahan 6 Ha yang diklaim Andi Mariam berdasarkan surat rincik yang sama, tidak tercatat dalam buku C maupun buku F Kecamatan Tamalate.

Meski penjelasan tertulis Camat Tamalate, Hasan Sulaiman berkata tegas, belakangan ia tetap berani merestui penjualan lahan seluas 6 Ha yang diduga merupakan lahan negara tersebut dengan memfasilitasi penerbitan Akta Jual Beli (AJB) antara Andi Mariam dengan PT. Gowa Makassar Trade Developmen (GMTD).

Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Tamalate Makassar, Fahyuddin saat ditemui di kantornya, Selasa 22 Mei 2018 mengatakan awalnya Camat Tamalate, Hasan Sulaiman menolak membuat AJB, karena waktu itu dinilai ada masalah. Namun setelah Andi Mariam memperlihatkan salinan putusan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi hingga putusan Mahkamah Agung (MA), Camat tidak memiliki lagi alasan untuk menolak membuat AJB atas lahan 6 Ha yang diduga lahan negara tersebut.

“Jauh sebelum AJB yang dibuat Pak Camat Hasan Sulaiman, lebih dahulu terbit AJB yang dibuat pejabat yang lama. Dan perlu diingat, AJB yang dibuat pak Camat hanya seluas 4,4 Ha, tidak seperti yang diributkan saat ini,” kata Fahyuddin.

Baca Juga :  Polisi Mulai Dalami Kasus Dugaan Penjualan Lahan Negara di Barombong

Namun saat Kedai-Berita.com menanyakan siapa pemilik sesungguhnya surat rincik Persil 13B DVV III Kohir 455 C1 yang dimana sebelumnya telah diklaim oleh tiga nama yakni Andi Mariam, Maputtuang dan Pincara itu, Fahyuddin terlihat terperangah.

Karena sesuai penjelasan Camat dalam suratnya kepada Syamsul Arief tertanggal 22 Maret 2017, yang tercatat dalam buku C dan buku F milik kecamatan Tamalate, Persil 13 B DVV III Kohir 455 C1 hanya ada lahan seluas 0,44 Ha. Sementara yang luasnya 6 Ha tidak tercatat dalam buku C maupun buku F.

“Tolong hal itu dikonfirmasi ke pak Lurah Barombong saja karena dia yang lebih tahu wilayah kerjanya itu,” tutur Fahyuddin.

Terpisah, Lurah Barombong, Reskianto saat ditemui di kantornya mengakui tidak bisa bicara banyak soal itu, karena ia baru menjabat sehingga tidak terlalu paham.

Meski demikian, kata dia, kalau persil 13B DVV III Kohir 455 C1 sesuai data yang dipegang oleh Camat Tamalate, Hasan Sulaiman selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), maka tanah 6 Ha itu milik Andi Mariam dan tercatat di persil tersebut.

Saat ditanya mengenai luas lahan rincik Persil 13B DVV III Kohir 455 C1 yang tercatat dalam buku C dan F Kecamatan Tamalate hanya seluas 0,44 Ha dimana terdapat luas tanah milik Maputtupuang 0,37 Ha dan Pincara 0,07 Ha?, Reskianto justru meminta Kedai Berita.com agar mempertanyakan hal itu langsung ke Camat Tamalate, Hasan Sulaiman saja.

“Kalau itu tanya ke pak Camat saja karena kebetulan mendekat ini, beliau ingin preskon juga soal itu,” ucap Reskianto.


Kronologi Kasus

Lahan negara seluas 60.000 meter persegi alias 6 Ha yang terletak di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar diduga dijual diam-diam oleh seorang warga bernama Andi Mariam.

Baca Juga :  Begal Sadis Barombong Dilepas, Kasubag Humas: Tidak Dilepas Tapi Ditangguhkan

Muhammad Khairil, Penasehat Hukum warga penggarap atas lahan negara tersebut membenarkan kejadian itu. Ia bahkan telah melaporkan dugaan penjualan aset negara berupa lahan seluas 4,75 Ha yang terletak di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar itu ke Polrestabes Makassar.

“Selain lapor resmi ke Polrestabes Makassar tanggal 23 Maret 2018, saya juga sudah resmi melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tanggal 13 April 2018,” kata Khairil sapaan akrab Muhammad Khairil sembari memperlihatkan bukti laporannya ke Polrestabes Makassar dan KPK, Sabtu 19 Mei 2018.

Awalnya, kata Khairil, dugaan penjualan aset negara itu terkuak saat beberapa warga yang telah menggarap lahan tersebut terhitung sejak tahun 1967 hingga 2 Februari 2018 hendak mengurus surat keterangan garapan untuk kepentingan membayar pajak.

Namun belakangan permohonan para warga penggarap tersebut selalu ditolak atau tidak pernah ditanggapi oleh seluruh mantan pejabat Kepala Kelurahan Barombong maupun Kepala Kecamatan Tamalate, Makassar terhitung sejak tahun 1967 hingga pejabat yang saat ini menjabat tepatnya tahun 2018.

“Secara fakta dan nyata, para warga telah menggarap selama 51 tahun terhitung sejak tahun 1967 hingga 2 Februari 2018. Sehingga lurah setempat harusnya membuatkan surat keterangan garapan atas lahan negara yang telah digarap tersebut,” terang Khairil.

Ternyata belakangan ada seorang warga bernama Andi Mariam mengklaim tanah negara tersebut merupakan warisan miliknya berdasarkan surat rincik bernomor 455 C1 Persil 13B DVV III atas nama Paturungi.

“Surat rincik yang digunakan Andi Mariam mengklaim tanah negara tersebut diduga kuat palsu. Hal itu berdasarkan keterangan pihak Kecamatan sendiri serta diperkuat oleh keterangan Badan Pertanahan Negara (BPN),” beber Khairil.

Menurut keterangan Kepala Kecamatan Tamalate, Hasan Sulaiman tepatnya 22 Maret 2017, menyatakan dengan tegas bahwa luas tanah pada Persil 13B DVV III Kohir 455 CI atas nama Paturungi telah tercoret sementara yang tercatat dalam buku C maupun buku F hanya ada nama Mattupuang seluas 0,3 Ha dan Pincara seluas 0,07 Ha atas Persil 13B DVV III Kohir 455 C1.

Baca Juga :  Lahan Negara Seluas 6 Ha di Barombong Diduga Dijual Diam-diam

“Nama Patturungi dengan Persil 13B DVV III Kohir 455 C1 atas lahan seluas 6,0 Ha itu tak ada dalam buku C maupun buku F milik Kecamatan Tamalate sehingga diduga kuat rincik itu palsu,” ujar Khairil.

Demikian juga dari keterangan BPN Makassar. Dimana menyatakan tegas bahwa lahan seluas 6,0 Ha yang diklaim oleh Andi Mariam berdasarkan rincik bernomor Persil 13B DVV III Kohir 455 C1 atas nama Patturungi itu berstatus lahan negara. Sehingga saat itu BPN menolak pembuatan sertifikat tanah yang diajukan oleh Andi Mariam berdasarkan rincik bernomor Persil 13B DVV III Kohir 455 C1 atas nama Patturungi.

“Anehnya belakangan tanah negara tersebut diam-diam dijual oleh Andi Mariam ke PT. Gowa Makassar Tourism Developmen (GMTD) dengan mendapatkan restu Camat Tamalate, Hasan Sulaiman disaksikan oleh Sekcam Tamalate, Fahyuddin dan Lurah Barombong, Reskianto Mulyawan dengan menerbitkan Akta Jual Beli (AJB) diatas lahan negara tersebut,” ungkap Khairil.

Andi Mariam menjual lahan negara tersebut ke PT. GMTD secara diam-diam dengan harga Rp 17 miliar berdasarkan AJB yang diterbitkan oleh Camat Tamalate, Hasan Sulaiman.

“Akibat perbuatan penyalahgunaan wewenangan oleh Camat Tamalate selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) itu, negara jelas dirugikan. Diduga kerugian negara yang ditimbulkan berdasar nilai taksasi lahan negara tersebut sebesar Rp 30 miliar dan itu telah kami laporkan resmi ke Polrestabes Makassar dan KPK. Silahkan konfirmasi ke sana,” tegas Khairil sembari memperlihatkan bukti laporannya ke Polrestabes dan KPK tersebut. (Said/Hakim)

Artikel ini telah dibaca 330 kali

Baca Lainnya

Kasus Penembakan Brigadir J, Begini Peran Irjen Pol Ferdy Sambo

10 Agustus 2022 - 23:53 WITA

1,87 Gram Diduga Sabu Diamankan Polda Sulsel

9 Agustus 2022 - 14:19 WITA

ACC Desak APH Usut Bau Korupsi Pembebasan Lahan Bendungan Paselloreng

9 Agustus 2022 - 14:15 WITA

Polisi Serahkan Tersangka dan BB Tipikor Alkes RS Fatimah Sulsel ke Jaksa

9 Agustus 2022 - 11:33 WITA

Perempuan Korban Kekerasan di Kabupaten Wajo Sambangi Polres dan UPTD PPA

2 Agustus 2022 - 17:32 WITA

Mantan Bupati Tanah Bumbu Dua Periode Resmi Pakai Rompi Orange

29 Juli 2022 - 16:19 WITA

Trending di Hukum & Kriminal
error: Hai! Pengunjung Kedai-berita.com